Sabrina – Chapter 10: Kejutan dari Orang Asing

8 months ago

Cerita ini hanya untuk 21 tahun ke atas, menimbang konten di dalamnya yang membutuhkan pikiran terbuka dan pemikiran yang matang.

Kejutan dari Orang Asing

Seorang ayah berusia hampir 40 tahunan mengeluarkan bebek ’70 nya dari sisi rumah. Ia memakai jaket kulit, celana hitam, dan sepatu pantovel. Sang ayah menyalakan motor dan menurunkan standar samping.

“Mah, Algemeen udah siap belum?” Ayah masuk ke dalam rumah untuk mencari anaknya, dengan bertanya pada istrinya.

Beberapa saat kemudian, seorang Ibu, anaknya, dan sang ayah keluar rumah. Anak perempuan berumur enam tahun itu sudah rapi.

“Hati-hati ya, yah. Pegangan yang kenceng ke ayah ya.” Sang Ibu mengancingkan jaket ayah, kemudian menengok ke anak perempuannya sambil mengusap lembut kepala anaknya.

Anak perempuan itu tidak menjawab, ia hanya mengangguk dan menaikkan seleting jaketnya.

Motor bebek merah itu melaju keluar rumah.

“Yah, kita mau ke mana?” Anak perempuan itu pegangan ke pinggang ayahnya karena tangannya tidak sampai untuk memeluk perut ayah.

“Ke restoran temen ayah.” Sang ayah masih fokus mengendarai motor, sambil menjawab anaknya dengan suara yang agak keras, bersaing dengan suara mesin motor dan angin yang cukup kencang.

Di tengah perjalanan, anak perempuan yang sedang dibonceng ayahnya itu tertidur. Untung sang ayah sadar karena kepala anak perempuan itu membentur punggungnya. Dengan refleks, satu tangan sang ayah memegangi anaknya. Satu tangannya itu seperti sedang memeluk, tapi ke arah berlawanan.

Setelah sekitar setengah jam berkendara, mereka sampai di tempat yang dituju.

“Hey, bangun. Kita udah nyampe.” Setelah mematikan mesin motor, sang ayah membangunkan anak perempuannya.

Anak perempuan itu bangun sesaat sebelum diturunkan dari motor dan sudah bisa berdiri setelah dibangunkan. Tapi ia masih mengumpulkan nyawa sambil mengucek-kucek matanya. Matanya masih sayu, ia masih limbung.

“Yuk.” Sesaat setelah anaknya sudah cukup sadar, sang ayah menggandeng anak perempuan itu berjalan.

Mereka sampai di sebuah bar dan resto. Saat itu sore hari. Bar & resto itu memang masih belum buka, karyawannya masih bersiap-siap. Ayah dan anak itu disambut oleh seorang pria yang terlihat seumuran dengan sang ayah.

“Eh, apa kabar Jok? Akhirnya mampir juga ke sini.” Teman ayah itu menyapa dengan bersalaman dan memeluk teman lamanya.

“Baik. Ini kenalin si cikal. Salam sama Om.” Sang ayah tertawa sumringah, kemudian meminta anaknya bersalaman dengan teman lamanya.

“Wah, udah besar ya. Udah kelas berapa?” Si Om bertanya pada anak perempuan itu.

“Kelas satu, Om.” Anak perempuan itu sudah sadar sekarang. Rasa kantuknya sudah hilang.

“Duduk, Jok. Gua ambilin minum dulu ya.” Si Om menunjukkan tempat duduk untuk ayah anak itu, kemudian mengambilkan minuman untuk mereka berdua.

Segelas es teh manis dan segelas minuman kecoklatan yang di bagian permukaan gelasnya ada buih putihnya. Dari dasar gelas itu, buih-buih kecil seperti soda melayang-layang naik.

“Nuhun, Dan.” Sang ayah berterima kasih dan langsung menyeruput minumannya.

“Bentar ya, gua cari cemilan dulu di dalem.” Teman sang ayah itu masuk untuk mencari camilan dari dapur.

Tinggal sang ayah dan anak perempuannya duduk di kursi bar.

“Yah, itu apa?” Anak perempuan itu penasaran dengan minuman yang diseruput ayahnya.

“Nih, mau coba?” Sang ayah menyodorkan gelas berisi minuman kecoklatan ke anak perempuannya.

“Uhm, pait.” Anak perempuan itu menjulurkan lidah sambil meringis, setelah mencicipi minuman ayahnya.

***

Baru beberapa hari menghabiskan waktu di Bali, Sabrina sudah mengalami banyak hal yang tidak terduga. Alam semesta seperti sedang memberinya banyak kejutan. Padahal ulang tahunnya masih lama.

Berkenalan dengan Gawi kemarin, pesan Facebook dari Gabrielle di pagi hari, lalu apa lagi? Bahkan belum setengah hari berlalu. Seperti yang sudah mereka bicarakan setelah makan malam di Jimbaran, Gabrielle sudah menjadi teman Sabrina di Facebook. Mungkin tidak ada maksud lain dari Gabrielle, dengan meminta nomor Sabrina. Tentu saja ia ingin mengobrol dengan Sabrina. Mengenal lebih jauh gadis yang dianggapnya menarik, meski baru bertemu sekali.

Walaupun Sabrina tidak langsung memberikan nomornya, Gabrielle tidak kehabisan akal. Ia memakai Facebook untuk berbincang-bincang dengan Sabrina. Ia juga memberi waktu supaya Sabrina cukup nyaman dan mau memberikan nomor handphone padanya. Gabrielle memaklumi itu.

Hari itu Sabrina kurang produktif. Ia bangun siang, leyeh-leyeh seharian sambil menonton series dengan suhu kamar yang dingin. Di luar panas sekali. Ia sempat memeriksa sedikit hasil pekerjaannya kemarin. Kemudian leyeh-leyeh lagi sampai sore.

Ia teringat undangan Gawi untuk datang ke pameran foto. Malam hari, di Bentara Budaya. Sabrina bingung akan pakai baju apa. Ia tidak terbiasa bergaul dengan komunitas yang mengerti seni. Ia takut salah kostum.

Jam 6, Sabrina bersiap-siap. Setelah mandi dan mengenakan pakaian yang sudah dipilih, ia keluar kamar. Tarita sedang di dapur, mempersiapkan makan malam.

“Akhirnya keluar kamar juga. Kamu cantik banget, mau ke mana?” Tarita menyapa Sabrina yang seharian di dalam kamar.

“Hehehe…iyanih. Tadi sempet keluar buat makan siang aja. Vincent di mana?” Sabrina agak tidak enak karena tidak menampakkan diri seharian.

“Vincent di atas. Oiya, ni aku lagi nyiapin makan malem. Tunggu ya sebentar lagi.” Tarita mengobrol masih sambil sibuk di dapur.

“Ta, aku ada janji. Jadi kayaknya nggak makan malem di rumah.” Sabrina sebenarnya tidak enak untuk menolak, tapi ia sudah tidak sempat lagi untuk makan malam di rumah.

“Oh, gitu. Kamu mau ke mana sih?” Tarita berhenti sejenak dan fokus mengobrol dengan Sabrina.

“Aku diundang ke pameran foto di Bentara Budaya.”

“Lumayan jauh loh dari sini. Kamu naik apa?”

“Iya, nanti pake Google Maps. Aku pake Uber.”

“Ato mau minta anter Vincent?” Tarita menawarkan Sabrina untuk diantar Vincent.

“Enggak, ngga usah Ta. Aku naik Uber aja. Kalian kan mau makan malem di rumah.”

“Bener, kamu bisa sendiri?” Tarita meyakinkan.

“Iya, I’m oke Ta. Maaf ya aku nggak bisa gabung sama kalian malem ini.”

“That’s oke. Kamu hati-hati ya. Kalo kemaleman, kabari Darmi aja buat bukain pintu.”

“Oke. Makasih. Aku pergi ya Ta. Tolong sampein juga ke Vincent.”

“Oke, take care.” Tarita melambaikan tangan sambil tersenyum.

Sabrina naik Uber yang sudah menunggunya di depan rumah. Malam itu Sabrina memakai dress biru tua berbahan chiffon yang ‘jatuh’ dan lembut. Ia menggerai rambut panjangnya, memakai make up yang membuat penampilannya sungguh elegan.

Ia sampai di Bentara Budaya pukul 8 lewat. Karena lapar, ia mampir ke gerai makanan ringan. Ruangan demi ruangan telah dipadati oleh pengunjung. Foto-foto yang didominasi oleh objek pemandangan terpajang di setiap sudut ruangan. Ia memandang ke sekeliling, tapi belum menemukan Gawi.

Selesai melahap beberapa potong croissant, dan menyeruput latte, Sabrina berjalan menyisir ruangan demi ruangan. Ia takjub dengan setiap karya yang dipajang. Sepertinya para fotografer yang mengambil foto-foto ini mendapatkan wahyu dari Sang Pencipta. Ia tidak seperti sedang melihat hasil foto, melainkan seperti sedang ada di lokasi sebenarnya. Tak hanya nama-nama fotografer Indonesia yang tertulis di hasil foto, tapi juga nama-nama fotografer mancanegara, yang tidak familiar bagi Sabrina karena ia memang tidak mengikuti dunia fotografi.

Sabrina berjalan lagi ke salah satu sudut ruangan. Belum sampai di dalam ruangan, ia terpaku di lorong yang menuju ke sana. Ia melihat salah satu foto dipajang dengan ukuran cukup besar. Seorang perempuan dijepret dari belakang, sedang berdiri di pinggir pantai, memakai topi pantai berwarna merah serta dress putih dengan bahan tembus pandang. Dari jauh terlihat antingnya menjuntai dengan warna cerah seperti lolipop, tapi tidak kelihatan jelas bentuk antingnya apa.

Di foto itu, terlihat keceriaan. Walaupun tidak melihat ekspresi wajahnya, perempuan di dalam foto terlihat asyik bermain air di pinggir pantai. Ombak bergulung dari kejauhan, buih berwarna putih berkumpul. Perempuan di foto itu bermain ombak dengan telanjang kaki.

Setelah terkejut beberapa saat, Sabrina tersenyum. Kemudian ia mendekat. Tertulis nama Gawi Bastian di bawah foto itu.

Tak sampai 10 detik setelah Sabrina puas memandang fotonya, kumpulan pengunjung berjalan menuju sudut ruangan itu. Sabrina berbalik, hendak berpindah ke ruangan lain.

“Hei, there you are! You’re here.” Gawi menyapa Sabrina.

“Eh, ya. Aku pengen tahu, sekeren apa foto-foto Gawi.” Sabrina sedikit terkejut, tetapi kemudian tersenyum saat bertemu Gawi.

“Guys, this is Sabrina. She’s the model.” Gawi memperkenalkan Sabrina ke kumpulan teman dan pengunjung yang sejak tadi berjalan dengannya.

Semua orang bersalaman dengan Sabrina. Sabrina merasa tidak siap dengan kejadian ini. Pertama, fotonya dipajang dengan bingkai besar di sebuah pameran fotografi. Kedua, Gawi dengan seenaknya memperkenalkannya sebagai model. Sabrina ingin mencubit Gawi rasanya.

Sabrina menyalami semua orang, kemudian melihat ke arah Gawi dengan ekspresi kesal. Seperti ingin menyampaikan ‘liat aja ya, kamu nanti!’. Gawi meringis sambil mengangkat jempol dan telunjuk yang dipertemukan, seperti gesture seorang chef.

Sabrina keluar dari sudut itu. Gawi masih sibuk mengobrol dengan para pengunjung dan teman-temannya. Saat Sabrina sedang berjalan hendak menuju ke tengah Bentara Budaya, tiba-tiba seorang waiter mendekati Sabrina.

“Mbak Sabrina ya? Silakan, ini minumnya. Tadi Mas Gawi pesan, jangan pulang dulu. Nanti dia ingin bertemu Mbak.” Waiter itu bicara pada Sabrina dengan logat Bali, Ia membawa nampan dengan bergelas-gelas minuman.

“Oh, iya. Makasih ya Blih.” Sabrina mengambil segelas minuman dan tersenyum.

“Kalau ada yang Mbak butuhkan, bisa panggil kami.” Waiter itu berkata lagi sambil memandang ke sekeliling, seperti ingin menunjukkan kepada siapa Sabrina bisa bertanya atau menyampaikan yang ia butuhkan. Waiter itu memakai seragam hitam putih khas. Di sekeliling Bentara Budaya juga berseliweran waiter dan waitress lainnya.

“Oke.” Sabrina menjawab sambil mengangguk.

Sabrina tidak menyangka, ia diperlakukan demikian. Semua ini karena Gawi. Dasar, Gawi Bastian. Awas ya kamu nanti. Begitulah yang dipikirkan Sabrina. Tapi kemudian ia menyunggingkan senyum di bibirnya.

Makin malam, makin banyak pengunjung yang datang. Makin banyak pula ekspatriat dari berbagai negara yang memenuhi sudut-sudut ruangan. Sabrina masih berada di tengah Bentara Budaya yang beratapkan langit, sambil menikmati gamelan Bali. Bahkan, tadi juga ada penari yang tampil. Beberapa pengunjung yang datang mengabadikan sudut-sudut Bentara Budaya. Ada pula kumpulan fotografer yang sedang memotret model-model yang memakai pakaian berbahan dasar kain tradisional Indonesia.

Di sudut lain, Sabrina melihat sekumpulan ekspatriat mengobrol dengan bahasa Perancis. Dan kali ini, ia seperti tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Setelah bertatapan dengan salah satu dari mereka, orang itu berjalan mendekati Sabrina.

“Sabrina!” Pria yang mendekati Sabrina ternyata Gabrielle.

“Hey. What are you doing here?” Sabrina masih bengong. Nada bicaranya menunjukkan seperti mustahil Gabrielle ada di tempat seperti Bentara Budaya.

“My friends show their photos here. French photographers.”

“Wow, what a coincidence!”

“Hey, I saw a photo at the show that looks like you. I was going to sent it via text, but here you are! Here see it!” Gabrielle menunjukkan foto perempuan yang diambil oleh Gawi.

Sabrina melihat ke layar handphone Gabrielle, tersenyum, seperti menyembunyikan sesuatu. Ia melirik ke arah Gabrielle yang masih memandangi layar handphone nya. Gabrielle melihat ke arah Sabrina, kemudian seperti mencerna sesuatu.

“Wait, is that you?” Sekarang giliran Gabrielle yang terkaget-kaget.

Sabrina tidak menjawab, ia hanya tidak bisa berhenti tersenyum.

“Oh, God. I knew it since the beginning!” Gabrielle berkata dengan volume yang cukup keras.

“I just knew it since I’m here.” Sabrina menjawab dengan ekspresi innocent.

“Oh, di sini toh. Tadi gue nyari lo ke mana-mana. Haha…” Gawi datang di antara Gabrielle dan Sabrina.

“Iya, Gaw. Eh, ini kenalin Gabrielle.” Sabrina agak bingung dengan situasi itu. Awkward moment!

Gabrielle dan Gawi bersalaman.

About Author

Mega

Mega

The dream to become a journalist started in junior high school. Graduating from college, she started a career in TV industry as a broadcaster, reporter, and script-writer. Now she is a part of our team. She also loves to sing in the shower, dancing with the rain, and let her imagination run wild while reading novel.

Comments

Most
Popular

Source: billboard.com

Rentetan Survival Show di Korea, Yay or Nay?

Survival show hadir sebagai cara baru untuk memperkenalkan idol Korea dan menampilkan seperti apa keseharian idol sebelu.. more

Kok CIAYO Comics Main Tenis Terus?

Buat bro sis yang sering mampir dan baca CIAYO Comics, mungkin ngerasa akhir-akhir ini komik digital Indonesia ini main .. more

(reddit.com)

9 Bentuk Transformasi Tony Tony Chopper di Anime One Piece

Karakter yang paling imut, ikonik dan super lucu di anime One Piece ini memang gak boleh kelewat untuk dibahas. Yups, si.. more

Chammyland - CIAYO Comics

Kangen Nggak Sama Coco, Chips, dan Crocket?

Hi Guys! Masih inget nggak sama Coco, Chips, dan Crocket? Yuk, kita inget-inget lagi karakter Coco, Chips, dan Crocket i.. more

CIAYO Comics One Shot Challenge Diperpanjang Guys!

CIAYO Comics One Shot Challenge diperpanjang, guys!!! Buruan bikin komiknya dan submit!.. more