Sabrina – Chapter 11: Jatuh Cinta Seperti Minum Soda

4 months ago

Cerita ini hanya untuk 21 tahun ke atas, menimbang konten di dalamnya yang membutuhkan pikiran terbuka dan pemikiran yang matang.

Jatuh Cinta Seperti Minum Soda

Apa kamu pernah merasakan jatuh cinta? Bila kamu sudah pernah merasa seperti ada kupu-kupu terbang di dalam perut, sudah bisa dipastikan kamu jatuh cinta. Atau yang agak ekstrim, kamu akan merasakan yang namanya nyereng, seperti minum soda. Seperti ada buih-buih kecil yang berletupan di sekujur tubuh. Denger musik dikit, pengennya jingkrak-jingkrak. Iya kalo musiknya nge-beat. Nah kalo dangdut? :p Atau, kamu serasa melayang ketika membayangkan orang yang membuatmu jatuh cinta. Wajahmu memanas, kamu seperti malu sendiri, pipimu merona.

Tidak bagi Sabrina. Sudah lama sekali, ia tidak merasakan sensasi jatuh cinta. Pengalaman dan berbagai kejadian yang telah dialaminya, membuat perasaannya sedikit membeku. Sulit sekali mencairkan hatinya. Tak mudah untuk membuatnya kembali ‘jatuh’. Apalagi ‘terjun bebas’. Pria yang bisa membuatnya jatuh cinta lagi bukan ‘the one’, tapi bisa dibilang ‘the champion’.

Seminggu di Bali tidak terasa lama bagi Sabrina. Setelah pameran fotografi di Bentara Budaya, sesekali Gawi mengajak Sabrina untuk menjadi modelnya. Jalan-jalan ke pantai, ke Ubud, ke sekitar Gunung Batur. Project yang ditanganinya tidak terasa berat. Bali merupakan atmosfir tepat untuk melakukan berbagai kegiatan kreatif. Sepertinya inspirasi mengalir dengan mudah.

Bahkan brand guideline, turunan, serta strateginya sudah setengah matang. Sabrina tinggal discuss sekali lagi dengan Max dan Gabrielle untuk menentukan detail yang cukup krusial terkait konsep restoran dan beberapa filosofi dari nama yang diambil dari bahasa Itali. Sepertinya, hanya butuh seminggu lagi untuk menyelesaikan printilan dan keseluruhan konsep.

Gabrielle juga akhirnya sudah diberi nomor oleh Sabrina, jadi mereka sudah bisa chatting lewat whatsapp. Pria Perancis itu cukup senang bisa lebih intens bertukar kabar dengan Sabrina. Hampir setiap hari.

“Sleepyhead, have you eaten?” Hari itu Sabtu. Vincent mengagetkan Sabrina yang sedang asyik dengan handphone nya.

“Ya. I had omelette and a slice of bread this morning.” Sabrina yang sedang duduk di sofa ruang tengah menjawab, kemudian kembali asyik dengan handphone nya.

“Let’s come with us. We are going to Galeria Mall.”

“Iya, yuk ikut!” Tarita juga semangat mengajak Sabrina.

“Really? Is it oke if I come with you two?” Sabrina bertanya untuk meyakinkan.

“Ya, of course.” Tarita tersenyum seperti geli mendengar pertanyaan Sabrina.

“Oke, wait a sec.” Sabrina menjawab sambil langsung melipir ke kamar.

“Let’s go!” Tak sampai satu menit, Sabrina kembali.

Mereka bertiga masuk ke mobil. Vincent yang menyetir. Hari itu cukup panas. Untung ia sudah mengoleskan sunblock, pikir Sabrina.

Mal Bali Galeria adalah mall yang cukup lengkap dan nyaman. Berbagai gerai makanan dan berbagai kebutuhan harian bisa dengan mudah didapatkan di sana. Bahkan ada bioskop juga di mall itu. Cukup lengkap lah untuk jalan-jalan dan bila ingin belanja kebutuhan untuk di rumah.

Setelah belanja beberapa kebutuhan, mereka ngadem di Starbucks.

“Mbak, Gabrielle apa kabar?” Tarita bertanya dengan ekspresi jahil.

“Dia baik-baik aja. Kenapa emang Ta?” Sabrina menjawab dengan sedikit malu.

“Oh…ya nanya aja.” Tarita tersenyum lebar.

“Eh, there’s a really delicious ice cream parlor here. Let’s go there.” Vincent memecah percakapan Tarita yang sedang asyik-asyiknya menggoda Sabrina.

“Oh iya. Tiap ke sini, kami pasti mampir ke sana. Yuk!” Tarita otomatis semangat dengan ajakan Vincent.

“Ayo, boleh.” Sabrina ngikut aja.

Selesai makan es krim masing-masing, mereka memutuskan pulang.

“Mbak, emang Gabrielle nggak ngajak nonton gitu?” Tarita bertanya dengan agak ragu-ragu.

“Enggak. Kenapa dia harus ngajak nonton?” Sabrina bertanya dengan innocent.

“Nggak papa. Ya cuma nanya aja. Kan bisa jalan-jalan. Di Bali banyak tempat-tempat bagus, toh. Mumpung di sini gitu maksudnya.” Tarita menjawab dengan nadanya yang halus, seperti biasa.

“Iya. Dia sempet ngajak pergi sih. Tapi nanti aja deh. Aku juga kan masih lumayan lama di Bali.” Sabrina menjawab dan duduk di mobil setelah membantu Tarita memasukkan beberapa barang ke bagian belakang mobil.

Saat mobil melaju, Sabrina sempat kepikiran juga dengan pertanyaan Tarita. Apakah Gabrielle ingin mendekatinya untuk hubungan serius, atau hanya karena momen saja. Sabrina belum bisa menjawab itu sekarang. Masih terlalu awal baginya untuk sekadar menerka-nerka.

Saat mereka pulang, hari sudah gelap. Beberapa sudut jalan di Bali sudah cukup lengang. Lampu-lampu jalan sudah mulai menyala. Bila suasana sudah begini, Sabrina teringat jalan-jalan di Jakarta. Bukan sisi hingar bingarnya, tetapi sudut-sudut jalan sehabis hujan. Sepanjang jalan Menteng, yang pohon-pohonnya cukup rimbun. Bila sudah begitu, ia tidak merasa seperti di Jakarta. Suasana Jakarta di kala itu sangat berbeda.

Ia ingat bunyi khas penjual nasi goreng. Suara nyaring pantat panci yang diketuk ujung besi. Suara sibuk penjual nasi goreng yang sedang memasak, gesekan sutil dengan dasar wajan. Sabrina tidak tahu, apakah serbuk-serbuk logam hasil gesekan itu bisa menambah rasa gurih nasi goreng abang-abang. Uap panas yang mengepul setelah nasi goreng matang, bau yang khas, warna nasi goreng yang coklat keemasan. Bukan keemasan sebenarnya, tapi berkilauan karena minyak yang banyak. Sedapnya tak ada yang bisa menandingi. Di Bali, ia belum menemukan nasi goreng seenak itu. Mungkin karena ia tidak tahu saja tempat-tempatnya.

Tapi setelah hampir seminggu tinggal di Bali, ia menyadari banyak hal. Ada kenikmatan-kenikmatan yang tidak bisa ia bandingkan dari setiap tempat, atau kota. Masing-masing tempat memiliki kekhasannya tersendiri. Tidak semua hal bisa dimunculkan dengan rasa yang sama persis.

Bahkan tiap sudutpun, menimbulkan aura yang berbeda, pesona yang berbeda, dan rasa yang berbeda. Bila diingat lebih dalam lagi, banyak pula sudut Jakarta yang membuat Sabrina teringat banyak hal. Teringat momen-momen dengan orang berbeda. Meski sudah memutuskan hubungan dengan orang tertentu, momen yang lampau bisa terlintas pula bila sedang lewat di suatu tempat, atau sudut kota.

Entah momen menyenangkan, atau menyedihkan. Sabrina menghela napas. Ia bukan lelah, ia hanya pasrah. Berusaha menikmati saat-saat di Bali dan mengukir momen-momen positif. Jadi saat kelak ia berkunjung ke Bali, ia dengan bahagia melewati tiap sudut kota. Tidak enggan menapaki setiap jejak. Dan dengan berani melangkahkan kaki tanpa ragu.

Semoga, semesta cukup bijak untuk diajak kerjasama. Semoga pertaruhannya kali ini tidak sia-sia. Kemudian ia tertidur dengan damai.

About Author

Mega

Mega

The dream to become a journalist started in junior high school. Graduating from college, she started a career in TV industry as a broadcaster, reporter, and script-writer. Now she is a part of our team. She also loves to sing in the shower, dancing with the rain, and let her imagination run wild while reading novel.

Comments