Sabrina – Chapter 12: Dari Mana Sifat Serakah Manusia Berasal?

6 months ago

“Wake up, sleepyhead!” Vincent mematikan mesin mobilnya.

“Kita udah sampe di rumah, Sa…” Tarita menghadap ke jok belakang, tersenyum pada Sabrina.

Sabrina mengulet, membuka matanya, sambil masih belum sadar benar. Perjalanan yang tidak terlalu lama tadi tetap bisa membuat Sabrina seperti diayun-ayun, seperti dinina-bobokan.

Sabrina berjalan keluar mobil dengan gontai, masih sambil mengumpulkan nyawanya. Keliatannya, malam ini ia tidak akan tidur cepat. Ia punya cukup tenaga untuk begadang dan menyelesaikan pekerjaannya. Targetnya, esok hari ia sudah bisa present ke Vincent dan Gabrielle. Revisi atau perubahan minor bisa ia rampungkan setelahnya.

Seperti perkiraannya, malam itu Sabrina terjaga sampai larut, lewat tengah malam. Segala perintilan dan detail ia lengkapi. Desain dan referensi juga sudah ia lengkapi. Esok hari ia siap presentasi.

***

Alarm handphone Sabrina menyala, jam menunjukkan pukul 9 pagi. Ia mengedip-ngedipkan matanya, menutup matanya sesaat, kemudian bangun dan bersiap-siap. Pagi itu ia tidak sabar memperlihatkan hasil pekerjaannya selama ini. Mudah-mudahan Vincent dan Gabrielle suka.

Sabrina memakai blouse hijau berbahan ‘dingin’ dan rok hitam span selutut. Pagi itu ia hanya memakai pelembab wajah dan lip balm. Saat keluar dari kamar, Tarita sudah ada di dapur sedang mempersiapkan sarapan.

“Morning, Ta.” Sabrina menyapa Tarita dengan senyum ceria.

“Hey, pagi Sabrina.” Tarita membalas dengan ceria juga.

Vincent beruntung memiliki wanita seperti Tarita. Halus, ramah, dan pintar. Kau tidak tahu saja bagaimana perjuangannya hingga bisa seperti sekarang. Kadang orang hanya melihat apa yang di depan matanya, tanpa mau tahu proses dan cerita di balik sesuatu. Proses dan cerita di balik itulah yang membuat Sabrina sangat kagum pada Tarita, bukan hanya melihat parasnya yang cantik.

“Ta, hari ini aku mau present hasil kerja aku selama ini. Vincent udah bangun belum?” Sabrina berjalan ke arah dapur sambil mengatakan rencananya pada Tarita.

“Dia udah bangun, tapi masih nonton TV di atas. Nanti aku panggilin. Kita sarapan dulu aja ya.” Tarita menjawab Sabrina sambil meneruskan pekerjaannya di dapur. Mbak Darmi juga membantu Tarita menyiapkan sarapan.

“Oke, kalo gitu. Aku juga butuh Gabrielle supaya dia juga tahu semua update nya.”

“Iya. Nanti aku sampein ke Vincent. Sekarang kamu tunggu dulu aja ya, bentar lagi sarapannya siap.”

Sabrina menunggu sambil menonton TV di ruang tengah. Hari itu Tarita memanggang roti hingga kecoklatan dan mengkilap diolesi butter, menyiapkan selai kacang dan selai buah yang berbentuk jelly. Setelah sarapan sudah tersedia lengkap, Vincent turun sebelum Tarita memanggilnya. Sepertinya suami istri ini memiliki kekuatan telepati.

“Ah, there you are. Breakfast is ready.” Tarita mendongak sesaat, menyapa Vincent dan masih terus disibukkan dengan rutinitas paginya.

“Morning, babe.” Vincent membalas Tarita sambil mengecup kening istri kesayangannya.

“Morning, Vincent.” Sabrina juga menyapa Vincent.

“How’s your night, sleepyhead?” Vincent memperlihatkan senyum lebarnya.

“I stayed all night. Finishing the task.” Sabrina nyengir.

“Oh, so you will take a nap again today?” Vincent masih memperlihatkan tawa jahilnya sambil mengambil dua lembar roti yang sudah diolesi selai oleh Tarita.

“Yea, maybe. But I will show you all the details before I take my nap. Hehe…Oya, I also need Gabrielle to come here.” Sabrina juga sudah mengunyah beberapa lembar roti sambil mengobrol.

“Ok. I will tell Gabrielle to come here. Let’s finish our breakfast first.”

Setelah menyelesaikan sarapan masing-masing, Vincent menelepon Gabrielle untuk datang ke rumahnya. Kali ini mereka akan membicarakan hal penting yang selama ini menjadi fokus. Untuk memulai sebuah usaha, membangun brand yang akan dijual merupakan langkah penting. Proses itu merupakan awal serta menentukan arah sebuah usaha. Apa yang dikerjakan Sabrina seperti sebuah kontemplasi dan introspeksi, apa yang ingin dilakukan, apa yang ingin dikomunikasikan, serta desain yang akan mengemas produk tersebut.

Dua jam kemudian, Gabrielle datang. Tidak terasa, sudah waktunya makan siang. Memang, mereka baru saja sarapan. Tapi itu memang hanya cukup mengganjal perut tidak lebih dari sejam. Gabrielle inisiatif membawakan pizza untuk makan siang sebelum meeting. Hahaha…dasar semuanya tukang makan. Baru saja sarapan, tetapi mereka tetap tidak menolak untuk melahap pizza yang dibawakan Gabrielle.

“Thanks for the pizza, Gaby!” Seperti biasa, Vincent selalu punya cara untuk membuat setiap orang nyengir.

“Hahaha…maybe you can call your daughter in the future with that name. But not for me.” Gabrielle tertawa renyah sambil mengunyah potongan nanas dari atas pizza.

“Why do you choose pizza for our lunch?” Tarita penasaran dengan sikap inisiatif Gabrielle yang cukup tinggi.

“Everyone loves pizza, right?” Gabrielle menjawab dengan santai.

“Do you love Sabrina?” Pertanyaan Vincent ini sangat kocak, tapi sudah cukup membuat Sabrina kikuk.

“Of course, who doesn’t.” Gabrielle tersenyum sumringah ke arah Sabrina.

Sabrina makin gelisah saja. Wajahnya merona.

“Eh, I need to prepare the presentation.” Sebelum kenyang, Sabrina sudah menyerah dan ingin ‘kabur’ dari situasi yang membuatnya awkward. Ia meminta waktu untuk mengambil laptop nya.

Tarita menangkupkan telapak tangannya ke wajah Vincent. Kadang Vincent memang suka keterlaluan jahil atau menggoda seseorang. Bila belum tahu kelakuan dan sifat Vincent, mungkin orang merasa tidak nyaman. Tetapi sebenarnya Vincent tidak bermaksud membuat orang tidak nyaman. Melainkan supaya suasana cair. Ada-ada saja si jahil Vincent.

Setelah kembali dengan laptop nya, Sabrina langsung mempresentasikan apa yang seminggu ini ia kerjakan. Segala detail, referensi, serta brief dari Vincent dan Gabrielle sudah ia coba penuhi. Melihat ekspresi Vincent, sepertinya ia suka dengan hasil kerja Sabrina. Tidak dengan Gabrielle.

“I don’t know if it’s only me who concern about this. But this brand, doesn’t stick in my mind. I mean, I rarely find the name of the restaurant. I want the name fills every corner.” Gabrielle berkata dengan ekspresi serius. Kali ini ia sedang tidak bercanda.

“Maybe you have heard about hard selling. I don’t choose that kind of strategy in this restaurant. We can build brand awareness by the time. I don’t wanna make people bored of the name. Because you know, they heard ‘bon appetit’, maybe everyday. We can give them directions without making their mind full of this name.” Sabrina mempertahankan argumennya. Memang begitulah seharusnya, ia perlu mempertanggungjawabkan apa yang menjadi buah pikirannya, hasil riset dan proses panjangnya selama ini.

“Well, I need another suggestion or formula. I think it’s not enough.” Gabrielle meminta Sabrina membuat versi lain dan formula lain.

Sabrina melirik ke arah Vincent, ekspresi wajahnya cukup tegang dan ditekuk.

“Okay, if you say so. I will prepare another solution.” Sabrina harus siap menghadapi ini. Ia tak gentar dan masih ingin mengusahakan hasil kerjanya.

Dari mana sifat serakah manusia berasal? Mengapa Sabrina merasa, kali ini Gabrielle memperlihatkan sisi lainnya. Serakah. Ia memang tidak melihat Gabrielle makan banyak atau mengambil sumbangan untuk orang tidak mampu. Tapi cara Gabrielle yang ingin memenuhi sudut restoran dengan nama itu sangatlah mubazir. Setiap orang yang mengerti bahasa Itali pasti akan langsung mengingat nama restoran, karena frase ini akan diucapkan sebelum makan.

Membuat ucapan itu sering terlihat, malah akan membuat pengunjung bosan. Atau mungkin tidak. Sabrina masih keukeuh dengan pendapatnya. Tapi ia juga memutar otak untuk merekomendasikan strategi lain.

“We meet again tomorrow.” Gabrielle menutup meeting, meneguk minuman yang disediakan Mbak Darmi, lalu pamit pulang.

Saat itu Sabrina cukup gondok dengan Gabrielle. Ia bengong cukup lama di sofa tengah.

“Hey, don’t think too much. I like your presentation, you know.” Vincent mendekati Sabrina dan menyampaikan apa yang tidak sempat disampaikannya saat meeting.

“Thanks, Vincent. I just, don’t understand with his thinking.”

“Take your time. Relax, so you can find a way.” Vincent memberi Sabrina semangat, kemudian pamit ke atas.

“Yeah, I need a fresh mind and get the solution.” Sabrina masih agak bengong memandangi layar laptop nya.

“Mbak istirahat dulu. Nanti lanjut lagi kerjanya. Kan udah begadangan ngerjain presentasi ini.” Tarita mengusap punggung Sabrina, memastikan bahwa semua akan baik-baik saja, kemudian menyusul Vincent ke atas.

“Thanks, Ta.” Sabrina juga bersiap untuk kembali ke kamarnya. Masih bengong, apa yang akan ia ajukan untuk strategi lain.

Sabrina berharap, nanti ia akan menemukan ide. Tidur siang mungkin membantu.

About Author

Mega

Mega

The dream to become a journalist started in junior high school. Graduating from college, she started a career in TV industry as a broadcaster, reporter, and script-writer. Now she is a part of our team. She also loves to sing in the shower, dancing with the rain, and let her imagination run wild while reading novel.

Comments

Most
Popular

Diskusi Seru di Japan Foundation Bareng NaoBun Project

Pada 19 Agustus 2017, di Japan Foundation, NaoBun Project memperkenalkan program Youtube yang akan mereka rilis bertajuk.. more

Andreas Paskalis: Di Balik Komik Sapi Terbang yang Absurd

Bro sis ada yang pernah tahu sapi terbang? Pengen tahu kira-kira terinspirasi dari mana author-nya saat membuat judul Fl.. more

Tessa: Menjadi Komikus Bukan Panggilan Semua Orang

Tidak semua orang punya ketertarikan yang besar di bidang komik. Tapi bagi Tessa, menjadi penulis cerita komik adalah pa.. more

Logo CLAS:H (matsurisurabaya.wordpress.com)

CLAS:H Cosplay Live Action 2017 Hadir di 5 Kota di Indonesia

Buat yang udah malang melintang di dunia pe-cosplay-an, pasti udah nggak asing sama Cosplay Live Action Show: Hybrid (CL.. more

Sabrina – Chapter 5: Teriakan Memekakkan Telinga

Sang kakak hanya terdiam menerima hujanan pukulan itu. Sampai suara hantaman keras dan teriakan dari arah kamar, membuat.. more