Sabrina – Chapter 13: The Name on the Glass

1 year ago

Cerita ini hanya untuk 21 tahun ke atas, menimbang konten di dalamnya yang membutuhkan pikiran terbuka dan pemikiran yang matang.

The Name on the Glass

“Ma…aku mau minum.” Anak perempuan berusia empat tahun itu berkata pelan pada mamanya. Anak itu seperti segan bersuara, ia bersikap sangat sopan pada orang tuanya. Typical anak perempuan yang penurut.

“Bentar ya, mama ambilin. Kamu mau minum apa? Susu?” Mamanya mengelus rambut anak perempuan itu.

“Air putih aja.” Sejak kecil, pipi anak perempuan itu sudah chubby. Entah karena doyan ngemil, tukang tidur, atau memang faktor genetik, memiliki rangka wajah yang lebar.

Mama menyodori cangkir berisi air putih, anak perempuan itu meneguk dengan semangat. Sepertinya ia sangat kehausan. Atau memang ia doyan air putih? Di cangkir itu tertulis ‘Mama’. Entah dari mana mama mendapatkan cangkir itu, yang pasti ayah juga punya cangkir yang sama dengan tulisan ‘Ayah’.

***

Sabrina terbangun dan langsung membuka laptop. Ia merevisi beberapa detail, menambah aksen di sana-sini, dan voila! Ia sudah siap dengan ide barunya. Tidak semuanya ia rombak, tapi ada beberapa bagian yang ia ubah dan tambahkan. Ia melihat jam di handphone nya. Pukul 11 pagi. Sabrina bergegas mandi dan bersiap-siap.

Sabrina memakai T-shirt v-neck polos berwarna tosca dengan blue jeans favoritnya. Untuk riasan wajah, ia hanya memakai pelembab dan lip gloss. Ia keluar kamar membawa laptopnya, kemudian membuat sarapan dan makan. Ia hanya baru melihat Mbak Darmi di dapur. Sepertinya Tarita dan Vincent belum bangun.

Saat menyalakan TV, Sabrina memencet-mencet tombol remote dan mencari channel film. Ia sangat suka menonton film. Apalagi gratis. Film lama pun, ia tonton. Ia suka cari tahu culture yang berbeda-beda lewat film. Memperhatikan akting para pemain film dari masa ke masa, dan mengambil pesan dari setiap film yang ditonton.

Setengah film selesai ia tonton. Tak lama kemudian, Tarita dan Vincent turun. Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang.

“Halo…” Tarita menyapa Sabrina saat sampai di ruang tengah.

“Hei, Ta. Hi Vincent.” Sabrina mendongak ke arah Vincent dan Tarita.

“Oh, you wake up early?” Vincent bertanya dengan memperlihatkan senyum jahilnya.

“Ya…I’ve prepared the stuff and now ready to present some new ideas.” Sabrina menjawab dengan muka agak ditekuk, mengerti apa maksud ekspresi Vincent tadi.

“Oke, I’ll call Gabrielle to come here.” Vincent masih mempertahankan senyumnya.

Tak berapa lama, Gabrielle datang. Meski belum sempat makan siang, mereka berempat tetap memulai meeting. Sabrina tidak sabar ini semua bisa cepat selesai. Bila semua sudah oke, ia akan kembali ke Jakarta. Tinggal proses produksi saja, vendor bisa ia pantau dari Jakarta.

“So, what can I hear from you Sabrina?” Gabrielle straight to the point.

“You said, you want the name fills every corner. But, then I add the name on the glasses, tissues, and calendars.” Sabrina memperlihatkan desain dan idenya dengan meyakinkan.

Gabrielle melihat detail presentasi dengan serius. Wajahnya menunjukkan ekspresi positif saat semua ide Sabrina tersampaikan. Kali ini, ia suka dengan semua ide yang disampaikan Sabrina. Akhirnya senyum terkembang di wajah Gabrielle.

Setelah Sabrina sibuk menjelaskan sambil menatap ke arah laptop, akhirnya ia menghadap ke Vincent, Tarita, dan Gabrielle. Ia melihat senyum Gabrielle. Ketegangan yang ia rasakan kemudian luntur setelah melihat senyum Gabrielle. Wajah yang tadinya ia tekuk, merona seketika.

“I like you. I mean, your presentation today.” Gabrielle memecah jeda hening yang cukup membuat Sabrina mati gaya.

“Yeah. Excellent, Sabrina!” Vincent menambahkan.

“Thank you.” Sabrina menjawab dengan tersipu.

Tarita berwajah ceria, dan mengacungkan jempolnya.

“Now, let’s go out to have some food.” Gabrielle sudah kelaparan.

Sabrina juga langsung semangat membereskan bahan presentasi dan laptop nya.

“We eat here. Darmi udah masak.” Tarita memutuskan untuk makan di rumah saja.

“Yeah, you two can eat together without disturbance.” Vincent kembali memperlihatkan tawa jahilnya.

“Okay. Fine.” Gabrielle mengiyakan.

Sabrina ke kamar untuk menyimpan laptop. Ia tidak berdandan hari itu, dan tidak peduli dengan penampilannya bahkan di depan Gabrielle sekalipun.

“Are you ready?” Gabrielle bertanya saat melihat Sabrina keluar dari kamar.

“Yeah.” Sabrina menjawab sambil mengangguk.

“Have fun you two.” Tarita berkata dengan ceria.

“Will do!” Gabrielle yang seperti ini yang Sabrina kenal.

Gabrielle dan Sabrina menuju ke sebuah restoran di daerah Seminyak. Kamu tahu apa yang dipesan Gabrielle? Soto. Sabrina juga sempat terkejut. Ada apa dengan londo Perancis ini. Apa ia sedang tidak sadar.

“Really? You order soto?” Sabrina bertanya dengan ekspresi agak bingung.

“Yeah. What’s wrong?” Gabrielle menjawab santai.

“It’s weird. Are you sick?”

“No. Why do you ask that?”

“Yeah, because it’s the first time you order Indonesian food.”

“You just know now. I’ve tried different things lately.”

“Well.” Sabrina tidak ingin tahu apa alasan Gabrielle memesan soto.

“Eh, sorry if you felt uncomfortable last time.”

“Uhm…that’s okay.”

“Really? Do you forgive me?”

“Yeah. It annoyed me, but now, it’s fine.”

“Your presentation today. I really appreciate it. Like it so much!” Gabrielle memperlihatkan ekspresi puas di wajahnya.

“Good then.” Sabrina menjawab singkat.

“Sabrina, how do you feel now?” Ekspresi wajah Gabrielle sedikit berubah. Ia mendadak agak serius.

“Hungry.” Sabrina menjawab dengan jujur.

About Author

Mega

Mega

The dream to become a journalist started in junior high school. Graduating from college, she started a career in TV industry as a broadcaster, reporter, and script-writer. She loves to sing in the shower, dancing with the rain, and let her imagination run wild while reading novel. You can contact her by email: megakardono@gmail.com | Instagram @mariamegayanti | Medium https://medium.com/@megakardono

Comments

Most
Popular

Sumber: YouTube

Sisi Gelap Harajuku Style Yang Mengejutkan: Yami Kawaii Fashion Sebagai ‘Coping Mechanism’ Keinginan Bunuh Diri

Yami Kawaii adalah fashion style yang merepresentasikan sebuah kondisi depresi dan atau masalah kesehatan kejiwaan dalam.. more

Melinie: Cheers! (CIAYO Pictures)

Melinnie Angela Memberi Warna Pada Chammyland

Meski udah suka bikin komik dari kecil, Melinnie Angela belum pernah menggeluti dunia komik secara profesional. Chammyla.. more

Your Name/Kimi No Na Wa, anime populer asal Jepang. Sumber: japantimes.co.jp

Your Name/Kimi No Na Wa Akan Dibuatkan Live Action-nya Oleh Hollywood! Bad News or Good News?

Ada kabar baru bagi penggemar dari film anime populer Jepang yang berjudul “Your Name”. Film “Kimi no Na wa” ata.. more

Sumber: wallpapersin4k.net

Valentine semakin dekat. Yuk, Ajak Gebetan Nonton Film-Film Ini!

Bulan Februari yang identik dengan bulan kasih sayang ini, rasanya pas banget buat deketin gebetan. Nah, biar suasana le.. more

00-d-e3-2018

Siapa Yang Memenangkan E3 2018?

E3 2018 telah usai. Siapa yang berhasil memikat gamer? Siapa yang gagal memuaskan fans? Kami menilai semua konferensi di.. more