Sabrina – Chapter 14: Sehangat Sentuhan Seorang Ibu

3 months ago

Cerita ini hanya untuk 21 tahun ke atas, menimbang konten di dalamnya yang membutuhkan pikiran terbuka dan pemikiran yang matang.

Gabrielle tidak habis pikir dengan jawaban Sabrina. Ia tahu, Sabrina memang lapar. Bukan keadaan perut yang Gabrielle ingin tahu, melainkan keadaan hatinya. Gabrielle hanya berdecak mendengar jawaban Sabrina. Perempuan ini kadang tidak peka, kadang bersikap innocent. Atau memang ia hanya bersikap jujur.

“I mean, how do your heart feel?” Gabrielle bertanya lagi. Kini dengan lebih spesifik.

“Uhm…why do you ask that?”

“Why you always answer with the question?”

“That’s my expertise.” Sabrina menjawab dengan cengiran lebar.

“Look, I like you Sabrina. Do you realize that?”

“Ah, c’mon Gabrielle. No time for joke.” Sabrina mengipaskan tangan di depan wajahnya.

“I like you, Sabrina. I’m serious.”

“Oh…” Sabrina hanya bisa melongo. Tidak tahu apa yang harus dikatakan.

Suatu hari Sabrina membayangkan saat ada yang mengungkapkan perasaan suka padanya. Ini tidak seperti bayangannya. Ia tidak menyangka bahwa akan terjadi begitu saja. Ia tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Ternyata mendengar suara hati tidak semulus yang dibayangkan. Seringkali kita penasaran dengan apa yang dirasakan seseorang. Setelah kita tahu, tidak semua yang diharapkan sesuai kenyataan.

Perasaan campur aduk kini mendominasi suasana hati Sabrina. Ia juga merasakan hal sama pada Gabrielle. Paling tidak, ia suka warna tosca menenangkan di mata Gabrielle. Tapi ia tidak siap bahwa ternyata Gabrielle suka padanya.

“Look, I don’t mean to surprise you or make you mute. We follow the flow, okay?” Gabrielle memecah hening yang membuatnya jengah.

“Yeah. Okay.” Sabrina mengerti maksud Gabrielle. Itu memang jalan yang tepat. Gabrielle tidak bermaksud mengejutkannya. Mereka bisa tetap menjalani hari-hari seperti biasa. Yang penting, Sabrina sudah tahu bahwa Gabrielle menyukainya. Setidaknya perasaannya tidak sepihak.

“Let’s eat! I’m starving.” Gabrielle menyambut dengan sangat ceria saat pelayan membawakan pesanan mereka.

Sabrina tersenyum melihat kelakuan Gabrielle. Pria ini tahu apa yang harus ia lakukan di depan Sabrina. Hal-hal kecil seperti ini membuat Sabrina nyaman. Ia tidak merasa terintimidasi. Ia merasa bisa menjadi diri sendiri di depan Gabrielle.

Mereka berdua makan dengan lahap. Tentu saja mereka sangat kelaparan karena telat makan setelah meeting. Sesekali mereka berbincang. Banyak hal yang Gabrielle bagikan pada Sabrina. Begitu pula sebaliknya. Rasanya setiap saat ada saja hal baru yang mereka ketahui dari cerita masing-masing.

Selesai makan, Gabrielle dan Sabrina pergi ke pantai. Mereka menyempatkan melihat sunset. Sabrina duduk di bean bag sofa. Di sekitar mereka juga berjejer bean bag sofa berwarna-warni. Gabrielle memesan minuman, kemudian kembali dengan dua botol minuman untuk mereka berdua.

“You know, I fell in love with the sunset for the first time when I spent a holiday in Karimun Jawa. After that, I always watching sunset everytime I go to the beach.” Sabrina berkata sambil memandang jauh ke arah lautan yang memperlihatkan warna jingga keemasan.

“Oh yea, I can see beautiful sunset here in Indonesia. With beautiful woman right here.” Gabrielle mulai gombal.

Sabrina menepak lengan Gabrielle sambil melirik galak. Tetapi kemudian tawa mereka berdua mengembang. It’s only sunset, you, and me.

***

Saat sampai di tempat Vincent, Tarita dan Vincent sedang duduk di ruang tengah sambil menonton TV. Gabrielle tidak lama-lama di tempat Vincent. Setelah berpamitan, ia pulang.

“Sabrina, when do you wanna go back to Jakarta?” Vincent bertanya sebelum Sabrina masuk ke kamar.

“Tomorrow?” Sabrina berpikir sebentar, kemudian mengatakan keinginannya dengan cepat.

“Really? Okay, I will book the ticket for you.”

“Okay. Thanks, Vincent.” Kemudian Sabrina pamit masuk ke kamar.

Malam itu Sabrina tidak bisa langsung terlelap. Ia memikirkan apa yang baru saja dialami. Semuanya terjadi dengan cepat, bergulir begitu saja. Hal-hal mengejutkan terjadi tanpa permisi. Kadang ia tak siap, tapi kemudian ia bisa menyadari. Kemudian Sabrina terlelap.

Keesokan harinya, Tarita menyiapkan sarapan. Vincent juga sudah bangun dan duduk di ruang tengah. Sabrina terbangun, langsung keluar kamar sebelum mandi, belum melakukan ritual pagi hari.

“Morning, sleepyhead! Oh, you look messy.” Vincent nyengir melihat Sabrina yang tidak biasanya keluar kamar dengan tampilan bangun tidur.

“I’m hungry.” Sabrina berkata dengan cuek sambil nyengir.

“Nih, udah aku buatin sarapan.” Tarita membawa dua piring makanan untuk Vincent dan Sabrina.

“Aaaww…thanks, Ta! You’re my angel.” Sabrina sangat bersyukur bisa kenal Tarita.

Sabrina menggigit roti panggang kecoklatan.

“This is your ticket.” Vincent menyodori amplop untuk Sabrina.

“Oh, I thought you’re not serious. I can go home?” Sabrina agak kaget, kemudian membuka amplop itu.

“Today? Oh…” Sabrina benar-benar tidak menyangka, Vincent langsung membelikan tiket pulang untuknya. Untuk hari itu.

“Thank you. I miss Jakarta.” Sabrina senang, tetapi juga sedikit kaget.

Setelah sarapan, Sabrina mengabari Gabrielle bahwa ia kembali ke Jakarta hari itu. Kemudian ia mandi dan bersiap-siap. Saat Sabrina di kamar mandi, teleponnya berdering berkali-kali. Tentu saja Sabrina tidak mendengar karena asyik mandi.

Selesai mandi, Sabrina langsung menelepon balik Gabrielle.

“Hey, morning.” Sabrina mengawali pembicaraan.

“Why don’t you tell me?” Gabrielle terdengar sedikit nyolot dari seberang sana.

“Vincent bought me the ticket. What can I do? I miss Jakarta, too.”

“Okay. What time you go?” Gabrielle tidak sabar ingin mengetahui informasi selengkap-lengkapnya.

“We’re going to the airport in 10 minutes.”

“Okay. We meet there.” Pembicaraan langsung terputus.

Sabrina kebingungan. Ia juga tidak bisa berkata apa-apa karena Vincent sudah membelikannya tiket.

Vincent dan Tarita mengantar Sabrina ke airport. Mereka sampai di airport setelah setengah jam perjalanan. Sabrina sudah check in. Mereka menunggu keberangkatan Sabrina di Starbucks. Satu jam telah berlalu. Gabrielle belum juga datang. Lima belas menit lagi Sabrina harus sudah boarding. Mereka mendekat ke ruang tunggu. Vincent dan Tarita mengantar Sabrina.

Telepon Sabrina berdering. Gabrielle menelepon.

“Where are you?” Gabrielle terdengar terengah-engah dari seberang sana.

“Close to the waiting room gate.”

“Wait.” Kemudian telepon ditutup.

Tak lama, Sabrina melihat Gabrielle berjalan cepat ke arahnya. Gabrielle tidak bisa menjelaskan semuanya saat itu juga, karena tidak lama lagi Sabrina harus pergi. Ia memeluk Sabrina. Sabrina menyerah. Ia membalas dekapan Gabrielle. Saat tubuh mereka berdua bertemu, seperti ada yang luruh. Ada kenyamanan yang Sabrina rasakan. Ia mendekap Gabrielle dengan erat. Kemudian mengusap punggung Gabrielle.

Giliran Gabrielle yang merasakan sensasi berbeda. Ia seperti pernah merasakan sentuhan itu. Sentuhan Sabrina seperti sentuhan seorang ibu. Gabrielle merasa hangat. Ia seperti menemukan apa yang selama ini ia cari. Tempat untuk pulang.

About Author

Mega

Mega

The dream to become a journalist started in junior high school. Graduating from college, she started a career in TV industry as a broadcaster, reporter, and script-writer. Now she is a part of our team. She also loves to sing in the shower, dancing with the rain, and let her imagination run wild while reading novel.

Comments