Sabrina – Chapter 2: Berapa Lama Aku Harus Menunggu?

10 months ago

Cerita ini hanya untuk 21 tahun ke atas, menimbang konten di dalamnya yang membutuhkan pikiran terbuka dan pemikiran yang matang.

Berapa Lama Aku Harus Menunggu?

Rabu siang, Sabrina sudah sampai di kantor. Tidak berapa lama lagi meeting akan dimulai. Setelah menunggu sekitar setengah jam, ruangan meeting dipenuhi oleh sekitar 15 orang. Ia sedang asyik-asyiknya memperhatikan bahasan meeting. Secara random, suami sepupunya mengirimkan whatsapp. Menanyakan kabar Sabrina, dan memastikan apakah semuanya baik-baik saja. Tumben, pikir Sabrina. Ada angin apa Mas Bowo menghubungiku. Memang tidak salah juga sih, Mas Bowo menanyakan kabar. Lah wong mereka sudah menjadi keluarga. Tapi ya agak aneh aja. Jarang-jarang, gitu.

Pemikiran skeptis Sabrina terbukti. “Pasti ada apa-apanya nih” di pikiran Sabrina terjawab.

Kamu udah punya pacar belum, toh? Aku lagi sama temenku nih. Mau aku kenalin sama Kamu.

Oh, well. Ya kan…bener ada apa-apanya. “Kukasih nomermu ke dia ya”, dan “Ya kenalan dulu aja” meluncur dengan lancar dari perkataan Mas Bowo. Sabrina mengiyakan tawaran Mas Bowo. Bukan karena terpaksa, tapi siapa tahu. Ya kenalan dulu aja, pikir Sabrina. Nggak ada salahnya juga kan punya teman baru.

Sabrina kembali serius memperhatikan koleganya bicara. Ada beberapa pekerjaan yang menyita perhatian Sabrina. Hari itu lumayan hectic dan membuat Sabrina cukup lelah. Sepulang kerja, Sabrina langsung tertidur pulas.

Kesibukan di kantor membuat Sabrina fokus bekerja. Belum ada hal lain yang ia pikirkan selain menyelesaikan tumpukan pekerjaannya. Banyak yang harus ia selesaikan. Detail dari beberapa project bertebaran, perlu ditangani dengan sigap.

Bahkan saat teman Mas Bowo menghubungi, Sabrina baru ingat. Lelaki itu berkenalan dan mulai chatting dengan Sabrina. Lelaki itu mengajak bertemu weekend ini. Tapi Sabrina menolak, karena sudah ada janji pemotretan.

Dari hari ke hari, lelaki itu terus menjaga komunikasi dengan Sabrina. Meski belum pernah bertemu, Sabrina berusaha ramah dan ngobrol dengan asik. Mudah-mudahan itu bisa membantu. Kalau nggak, ya biarlah obrolan mengalir sekenanya. Senatural mungkin. Biarlah pembicaraan yang menentukan ke mana akan menuju.

Hei, lagi ngapain?

Eh, kan lagi pemotretan ya. Sorry ganggu.

Lelaki itu mengirimkan pesan yang kedua, setelah pesan pertama tak juga dibaca oleh Sabrina.

Pemotretannya diundur.

Sabrina tidak bermaksud membohongi lelaki itu. Kliennya memang membatalkan pemotretan secara mendadak. Makanya weekend itu Sabrina sudah terlanjur leyeh-leyeh seharian di apartemennya.

Ketika weekend berakhir, Sabrina kembali berkutat dengan tumpukan pekerjaannya. Tidak ada waktu luang untuk memikirkan hal-hal kecil. Saat ada waktu, ia gunakan untuk menghilangkan penat dengan bercanda bersama rekan sekantor dan makan banyak.

Ya, Sabrina sangat suka makan. Tapi sebanyak apapun ia makan, tidak membuat badannya cepat gemuk. Entah ke mana semua makanannya. Mungkin dihabiskan naga di dalam perutnya.

Teman Mas Bowo masih getol menghubungi Sabrina. Sekadar menanyakan kabar, berusaha bercanda lewat chatting, atau mengirimkan gambar-gambar lucu. Sabrina masih menanggapinya. Kadang Sabrina lama tidak membalas karena belum kelar menyelesaikan pekerjaan.

Jumat sepulang kerja, teman Mas Bowo ngajak ngobrol Sabrina lagi lewat chatting. Ia menanyakan apakah mereka bisa bertemu weekend ini. Sabrina mengiyakan untuk bertemu di hari Minggu. Hari Minggu Sabrina rutin ke padepokan untuk main angklung. Sabrina mengajak teman Mas Bowo untuk ikut sesi latihan juga.

Hari Minggu tiba. Sabrina mandi, make up, dan siap berangkat. Saat Sabrina sudah keluar apartemennya, teman Mas Bowo menelepon. Katanya baru bangun. Hendak mandi dan bersiap-siap katanya.

Sabrina sampai di dekat padepokan. Ia mampir dulu ke salah satu restoran cepat saji, karena belum sempat makan dari pagi. Sambil menunggu, Sabrina makan. Ia makan ayam goreng tepung kesukaannya.

Teman Mas Bowo menelepon Sabrina lagi. Katanya, ia akan telat sampai karena baru akan berangkat. Jarak rumahnya ke padepokan tempat latihan angklung memang sangat jauh. Sebenarnya ia menanyakan apakah ada sesi latihan di jam berikutnya. Tapi Sabrina sudah terlanjur sampai dan akan latihan di jam 3.

Kalo kamu mau latihan di sesi berikutnya, monggo. Tapi aku bakal tetep latihan jam 3.

Di situ Sabrina sudah mulai kesal dan merasa lelaki itu tidak bisa memegang omongannya.

Terus kalo aku latihan di sesi berikutnya, nggak ketemu kamu dong?

Sabrina belum melihat pesan itu, dan mengabaikannya. Ia serius latihan, kemudian main ke tempat Intan.

Seminggu berlalu setelah kejadian menjengkelkan akibat ketidakhadiran teman Mas Bowo. Seminggu ini, lelaki itu terus mengirimkan pesan lewat chatting. Tapi tidak dibalas oleh Sabrina. Sabrina memang cukup kesal. Namun saat teman Mas Bowo mengajak bertemu, Sabrina membalas. Ia ingin memberikan kesempatan sekali lagi dan bertemu.

Sabtu itu Sabrina memakai mini dress tanpa lengan, yang panjangnya di atas lutut. Membuatnya terlihat seperti bocah. Tetapi ia memakai outer bercorak tenun yang panjangnya sebetis, menyeimbangkan dress nya yang kekanak-kanakan. Hari itu ia tidak berdandan berlebihan. Hanya memakai eyeliner dan lipstik tipis. Setelah beres sesi catwalk, Sabrina menuju café favoritnya.

Sabrina suka suasana café nya yang hommy. Meski kecil, Sabrina bisa berlama-lama di café itu. Biasanya Mbak dan Mas pelayan café memutarkan lagu-lagu tahun 2000-an. Mengingatkan Sabrina ke masa SMA. Makanan dan minumannya pun membuat Sabrina betah. Saat itu Sabrina memesan teh rosella.

Tak terasa, Sabrina sudah menunggu setengah jam. Lagu Ruth Sahanaya mengalun, membuat suasana agak syahdu. Teh rosella yang dipesan Sabrina sudah hampir habis. Kemudian ia memesan singkong sambel roa. Meskipun sudah makan, Sabrina butuh cemilan sore hari. Udara dingin bulan Januari membuat Sabrina cepat lapar. Ia menikmati singkong yang garing di luar, lembut di dalam. Belum lagi dicocol ke sambel roa. Uhm…maknyos. Dari 7 potong singkong, Sabrina sudah menghabiskan 3 potong.

Sudah 1 jam setengah ternyata Sabrina menunggu. Ia sudah bolak-balik ke toilet berkali-kali, mengecek handphone nya, akhirnya tidak sabar dan menanyakan keberadaan teman Mas Bowo.

Udah sampe mana?

Meski terbaca biasa saja, Sabrina sudah sangat kesal menunggu. Memang, rumah lelaki itu jauh. Tapi menunggu 1 setengah jam, membuat Sabrina ingin menggoreng semua singkong dan menghabiskannya sendirian.

Lima belas menit lagi berlalu. Sabrina masih duduk di sofa merah, spot kesukaannya di café itu. Kemudian teman Mas Bowo menelepon, memberitahu bahwa ia sudah dekat. Detik itu, Sabrina sudah berencana hendak mengobrol sampai singkongnya habis dan langsung pergi setelahnya.

Saat Sabrina sedang menatap layar handphone nya, ada pengunjung café yang masuk. Sabrina masih serius menatap layar handphone nya. Saat Sabrina mengangkat kepalanya yang tertunduk, seorang lelaki berjalan menuju tempatnya duduk. Sepertinya ia tahu lelaki itu siapa.

“Aria,” Lelaki itu menjulurkan tangannya ke arah Sabrina.

“Sabrina.”

Kehadiran Aria tidak membuat Sabrina berubah pikiran. Ia tetap pada rencananya. Obrolan mereka masih berkutat seputar info sederhana, layaknya orang baru berkenalan. Sabrina mengambil 1 lagi singkongnya. Sambil terus mengunyah, sesekali Sabrina yang balik bertanya. Tetapi yang namanya ekspresi, tidak bisa dibohongi.

“Kamu kok kayak yang nggak suka gitu sih dari tadi mukanya.” Aria berkata dengan ragu-ragu.

“Uhm?”

“Kamu kesel ya?”

“Enggak kok.” Sedetik setelah menjawab demikian, Sabrina berkata lagi, “Ya iyalah kesel!”

Siapa yang nggak kesel nunggu hampir 2 jam coba. Gimana nggak kesel? Alasan Sabrina masih bertahan, karena ia sangat suka café itu. Singkongnya juga belum habis. Selain itu, Sabrina juga ingin menunjukkan niat baik aja, mau bertemu. Selanjutnya sih, jangan banyak berharap deh.

“Ya maaf deh. Maaf ya.” Aria memohon.

“Iya, yaudah. Eh, ni mau coba nggak singkongnya…enak loh pake sambel roa.”

“Gapapa nih?”

“Iya ambil aja. Abisin ya.”

Aria mengambil 1 potong singkong. Pembicaraan mereka masih berlanjut. Sekarang menceritakan pekerjaan masing-masing. Ternyata Aria belum terlalu lama kerja di Jakarta. Tidak lebih lama dari Sabrina.

Telepon Sabrina berdering. Sabrina mengangkat telepon, berjalan ke arah toilet sambil menunjuk ke teleponnya, permisi meninggalkan meja. Teman-teman Sabrina dari Medan sedang ada di Jakarta. Mereka sedang di mall, dekat dengan lokasi café. Saat kembali ke sofanya, Sabrina mengambil lagi 1 singkong. Kemudian menyuruh Aria untuk menghabiskannya.

Sabrina juga bilang kalau ia tidak bisa lama-lama. Ia harus bertemu teman-temannya karena sudah lama juga tidak berjumpa. Padahal Aria sudah menawarkan untuk menonton film atau lanjut jalan ke mana, gitu. Tapi Sabrina menolak.

Aria mengambil potongan singkong yang terakhir, Sabrina meminta bill. Setelah bayar, Sabrina pamit.

“Udah ya, aku duluan.”

“Emang ketemuan di mana?”

“GI.”

“Yaudah, sekalian aku anter.”

“Beneran gapapa?” Sabrina enggan sebenarnya.

“Iya, sekalian jalan.”

Jarak café ke mall sangat dekat, hanya 15 menit perjalanan. Tetapi 15 menit di mobil Aria terasa sangat lama bagi Sabrina. Ia ingin buru-buru turun dan enyah dari hadapan Aria.

“Aku turun di sini aja. Kalo muter balik, macet banget. Biar aku nyebrang dari sini aja.” Sabrina sudah ingin loncat dari jok mobil rasanya.

Karena sudah terlewat agak jauh, Aria mengambil jalan ke kiri dan memutar sekali lagi. Setelah sampai di jembatan penyebrangan, Sabrina langsung pamit, mengucapkan terima kasih, dan turun dari mobil Aria. Ia serasa terbebas dan bisa menghirup udara segar.

“Selamat malam minggu,” Aria sempat berkata demikian saat Sabrina sudah turun dari mobilnya.

Kamu tahu kan, apa yang terjadi setelah itu dengan Aria dan Sabrina? Saat Aria memberi kabar bahwa ia sudah sampai di rumahnya, Sabrina masih bersama teman-temannya.

Makasih ya hari ini. Udah sampe rumah.

Aria mengirim whatsapp kepada Sabrina saat sudah sampai rumah.

Makasih juga.

Sabrina membalas dengan sangat singkat.

End of story.

 

About Author

Mega

Mega

The dream to become a journalist started in junior high school. Graduating from college, she started a career in TV industry as a broadcaster, reporter, and script-writer. Now she is a part of our team. She also loves to sing in the shower, dancing with the rain, and let her imagination run wild while reading novel.

Comments

Most
Popular

Sumber: Polygon

Waduh! Dana Kickstarter Untuk Game Project Phoenix Diduga Diselewengkan Untuk Membuat Game Lain!

angat disayangkan bahwa masih saja terjadi kasus-kasus penyelewengan dana dalam proyek Kickstarter. Belum lama ini, game.. more

(CIAYO Comics)

Setahun Perjalanan CIAYO Comics

Setahun sudah, CIAYO Comics sebagai platform komik digital Indonesia hadir dengan deretan komik-komik favorit. Para peci.. more

Sumber: pinterest.com

Chronestesia: Mesin Waktu Dalam Otak Manusia

Film dan buku fiksi yang memakai tema balik ke masa lalu atau tokoh yang punya kekuatan teleporter bisa pergi ke suatu m.. more

Sumber: mnl48

Mungkin Ini Penyebab Jepang dan Korea Mengalami Penurunan Angka Kelahiran

Baik di Jepang maupun di Korea, kedua negara tersebut sedang mengalami satu permasalahan yang sama. Yaitu penurunan angk.. more

Hunter X Hunter by Yoshihiro Togashi. Sumber gambar: animationmagazine.net

Hunter X Hunter & Berserk: Dua Manga Yang Selalu Hiatus

Di kalangan penggemar shonen manga, setidaknya ada dua judul yang sangat terkenal & populer tidak saja karena memang ser.. more