Sabrina – Chapter 3: Berkenalan Dengan Pria Mapan

11 months ago

Cerita ini hanya untuk 21 tahun ke atas, menimbang konten di dalamnya yang membutuhkan pikiran terbuka dan pemikiran yang matang.

Berkenalan dengan Pria Mapan

Pagi itu dua bocah perempuan bermain akrab sekali. Sepertinya mereka seumuran. Bocah yang rambutnya lebih panjang mengendarai sepeda, sedangkan yang rambutnya sebahu membonceng di jok belakang. Mereka memutari ruang keluarga dengan sepeda itu. Sesekali terdengar tawa riang saat sepeda melaju kencang.

Hampir setengah hari mereka tak henti bermain. Sesaat kemudian, terdengar bunyi keras dari arah ruang keluarga. Saat ibu si rambut panjang melihat keadaan, net raket tenis dengan gagang kayu sudah amburadul, tertahan di badan bocah rambut sebahu. Tangis bocah rambut sebahu pecah. Si rambut panjang terlihat cemas dan ketakutan. Ibu si rambut panjang melepas raket tenis dari badan bocah, lalu mengusap-usap kepalanya. Ia juga menghapus air mata yang membanjiri pipi chubby bocah yang rambutnya sebahu. Saat ibu bocah rambut sebahu datang, bocah itu langsung berlari dan memeluk ibunya. Si ibu mengusap-usap punggung anaknya. Memaklumi apa yang terjadi dengan anak-anak bocah yang masih polos itu.

Saat ayah si rambut panjang tahu, ia minta anaknya meminta maaf atas perbuatan kasar pada sepupunya. Dua bocah perempuan itu sudah berdamai. Bocah yang rambutnya sebahu masih terlihat murung. Kemudian ayah si rambut panjang mengajak mereka ke taman ria. Ayah-ibu si rambut panjang dan ayah-ibu bocah rambut sebahu berangkat bersama ke taman ria.

Kedua bocah perempuan itu kembali bergandengan, berlari ke arah tangga istana kerajaan. Tawa mereka kembali terdengar. Mereka ke istana boneka, naik kereta gantung, dan komidi putar dengan riangnya. Kedua keluarga itu menikmati kebersamaan mereka hingga petang.

Waktu berlalu, kini dua bocah perempuan itu sudah menjadi dua wanita dewasa. Sabrina dan Agata. Mereka berdua masih akrab seperti waktu kecil. Sabrina kerap berkunjung ke rumah Agata. Suatu kali saat bermain ke rumah Agata, Tante Bernadet sempat bertanya pada Sabrina.

“Kamu udah ada yang deket belum?”

“Deket gimana, Tante?” Sabrina membalas pertanyaan Tante Bernadet dengan pertanyaan juga.

“Ya cowok yang udah serius gitu maksudnya…”

“Hehe, belom Tante. Kenapa emangnya?” Sabrina menjawab dengan cuek dan sambil cengengesan.

“Itu, Om Setyo punya temen. Baik orangnya, udah mapan juga. Pengen dikenalin ke siapa gitu.”

“Kenalin ke Agata aja, Tante.”

“Kan Agata udah punya pacar. Makanya Tante tanya kamu. Kenalan aja dulu.”

“Hehe…yaudah Tante, kalo emang mau dikenalin.”

Pertukaran foto dan nomor handphone pun dilancarkan oleh Tante Bernadet. Selang beberapa waktu, seseorang menghubungi Sabrina. Pria itu memperkenalkan diri sebagai teman Om Setyo.

Sejak saat itu, pria itu getol menghubungi Sabrina. Sekadar menanyakan kabar, mengobrol tentang kesibukan masing-masing, sampai menelepon Sabrina sepulang bekerja. Saat dirasa sudah siap, pria itu mengajak Sabrina untuk bertemu.

“Kamu suka makanan western, seafood, atau apa?” Pria itu menanyakan pilihan makanan ke Sabrina.

“Aku sih suka semuanya. Hehe…”

“Aku pingin ngajak ketemu. Maunya di mana?”

“Terserah. Mau di dekat tempat tinggalku, atau tempat tinggal Mas?”

“Kalau kamu main ke daerah sini, kejauhan nggak?”

“Boleh aja…gapapa, nanti aku pake Transjakarta.”

“Nanti kujemput ya?”

“Enggak usah Mas. Langsung ketemu di sana aja.”

“Atau pake taksi aja. Nanti uangnya kuganti.”

“Yaudah, pokoknya nanti kita ketemu di sana ya Mas.”

Setelah menentukan tempat dan waktu bertemu, pembicaraan di handphone berakhir. Di setiap kencan pertama, Sabrina enggan untuk dijemput. Bahkan tidak jarang, di setiap kencannya Sabrina memilih bertemu di tengah-tengah.

Hari yang ditunggu pria itupun tiba. Ia memastikan Sabrina telah berangkat dengan meneleponnya. Saat pria itu menelepon, Sabrina masih ada di dalam Transjakarta.

“Halo, kamu udah berangkat?”

“Udah, ini udah di jalan kok. Bentar lagi sampe.” Terdengar sayup suara rekaman yang menginformasikan halte pemberhentian selanjutnya.

“Kamu naik apa?”

“Naik Transjakarta ni jadinya.”

“Oh, okedeh. Sampe ketemu ya.”

“Oke.”

Sesampainya di halte tujuan, Sabrina turun dari Transjakarta. Kali itu ia memakai dress hitam dan flat shoes berwarna hitam. Ia memakai eyeliner serta memulaskan lipstik berwarna pink di bibirnya. Rambut sebahunya digerai.

Saat sudah dekat dengan restoran yang dituju, Sabrina melihat pria itu dari kejauhan. Ternyata restoran yang ingin mereka coba, cukup penuh dan harus menunggu antrian bila ingin makan di sana. Akhirnya mereka pindah ke restoran sebelahnya. Tempatnya tidak semewah restoran sebelumnya, tapi tetap nyaman. Sabrina juga sudah beberapa kali mencoba makanan di situ.

Sabrina memesan pasta dan lemon tea. Sedangkan pria itu memesan risotto dan coffee latte.

Mereka berbincang cukup lama. Sabrina menanggapi dengan ramah. Tetapi ia kurang sreg. Sebenarnya pria ini baik, saat mengobrol juga lumayan nyambung. Tapi Sabrina merasa pria ini bukan tipenya.

Saat makanan Sabrina hampir habis, handphone pria itu berdering. Pria itu mengiyakan orang di ujung sana yang memastikan nama restoran. Tak lama kemudian, datang dua pasangan muda dengan anak masing-masing. Pria itu berdiri, menyambut dua keluarga itu untuk duduk bergabung bersama mereka.

“Kenalkan, ini adek-adek aku sama keluarganya.” Pria itu berbicara kepada Sabrina.

“Sabrina.” Sabrina menyalami semua orang sambil tersenyum.

Sabrina masih kebingungan dan belum siap dengan semua itu. Sepanjang pembicaraan, ia berusaha menyikapi dengan ramah. Adik-adik perempuan pria itu pun ramah. Tetapi tetap saja, Sabrina merasa ada yang salah dengan kejadian yang ia alami.

Salah satu adik pria itu menjelaskan kedatangan mereka,”Kemarin ini Mas Diaz baru aja ulang tahun, makanya kita pengen kasih kejutan dan dateng ke sini.”

Sabrina sudah tidak nyaman berada di situ. Ia meminta salah satu teman untuk meneleponnya. Handphone Sabrina berdering. Setelah berbicara lewat handphone, Sabrina pamit. Sebenarnya ada perasaan tidak enak karena merasa tidak sopan pamit duluan. Tapi Sabrina sudah tidak tahan. Akhirnya Sabrina tetap pergi dan pamitan.

Keesokan harinya, Sabrina merasa tidak enak kemudian mengirimkan pesan ke Diaz.

Mas…Terima kasih ya kemarin makan siangnya.

 

Sama2. Sorry kemarin kalo buat kamu jadi gak enak.

End of story.

About Author

Mega

Mega

The dream to become a journalist started in junior high school. Graduating from college, she started a career in TV industry as a broadcaster, reporter, and script-writer. She loves to sing in the shower, dancing with the rain, and let her imagination run wild while reading novel. You can contact her by email: megakardono@gmail.com | Instagram @mariamegayanti | Medium https://medium.com/@megakardono

Comments

Most
Popular

Makin Akrab Sama Author Love Has Fangs & Heartbeat

Bro sis, siapa di sini yang ngefans sama komik cinta-cintaan? Pasti banyak deh yang demen komik bergenre seperti komik d.. more

Sumber gambar: youtube.com

Game Nintendo Switch & 3DS Yang Akan Menyerbu Pasar Tahun 2018

Game-game baru Switch & 3DS untuk tahun 2018 antara lain adalah:.. more

Sumber gambar: slashgear.com

Robot Anjing Sony AIBO Dilahirkan Kembali di Tahun Anjing 2018

Resminya AIBO diposisikan oleh Sony sebagai “robot hiburan untuk rumah Anda”, dan berfungsi seperti halnya anjing pe.. more

Sabrina – Chapter 4: Kencan Dengan Expatriat

Sudah lama Sabrina menyimak event-event di aplikasi untuk komunitas traveler itu. Group trip, meet up, dan kumpul-kumpul.. more

Knowl­edge speaks — Wis­dom lis­tens, Athens Greece 2016 (Sumber: wdstreetart.com)

Seniman Mural Asal Indonesia ini Berhasil Go International!

Nah, ternyata kalau ngomongin soa mural, Indonesia juga punya jagoannya loh. Buat para penikmat street art pasti pernah .. more