Sabrina – Chapter 4: Kencan Dengan Expatriat

7 months ago

Cerita ini hanya untuk 21 tahun ke atas, menimbang konten di dalamnya yang membutuhkan pikiran terbuka dan pemikiran yang matang.

Kencan dengan Expatriat

Sudah lama Sabrina menyimak event-event di aplikasi untuk komunitas traveler itu. Group trip, meet up, dan kumpul-kumpul casual lainnya. Tapi sebatas itu, Sabrina hanya lihat-lihat. Hingga satu kali, akhirnya ia memutuskan untuk datang ke salah satu meet up.

Malam itu Sabrina memakai blouse kuning dengan aksen bunga. Dipadankan dengan jins hitam dan flat shoes kesayangannya. Kali itu ia tidak memakai make up, hanya mengulaskan lipgloss tipis, dan menggerai rambut panjangnya.

Bisa kamu bayangkan, datang ke pertemuan yang orang-orangnya sama sekali tidak kamu kenal? Kira-kira apa yang akan kamu lakukan…Apa kamu akan mengajak teman, atau dengan pede ngobrol aja sama teman-teman baru? Saat itu Sabrina nervous. Ia tidak tahu harus berbuat apa.

Saat sampai di salah satu café di Cental Park, Sabrina berbaur dan duduk di salah satu kursi. Ia menyalami semua orang di sana dan menyebutkan namanya setiap menyalami orang yang berbeda. Sabrina mati gaya.

Tapi ternyata tidak hanya Sabrina yang merupakan new comer di acara meet up itu. Dan obrolannya pun tidak hanya tentang traveling. Karena baru kenal, di satu jam pertama mereka saling bertukar informasi general. Pekerjaan, tempat tinggal, kota asal. Meski itu pengalaman Sabrina yang pertama, ternyata tidak semenakutkan yang ia pikirkan sebelumnya. Sabrina tak banyak membuka obrolan, tapi pembicaraan terus bergulir. Tidak ada hening yang membuatnya bosan.

Gelas demi gelas berisi minuman menjadi teman ngobrol mereka. Sabrina masih betah, makin malam obrolan juga makin seru. Kecanggungan mereka sirna sudah. Suasana menjadi hangat oleh cerita dan pengalaman masing-masing.

Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Sebagian dari mereka pamit pulang. Hanya tinggal enam yang masih bertahan, termasuk Sabrina. Sabrina mengobrol lebih intens dengan grup kecil itu. Ia mengobrol dengan teman dari Belgia, Jerman, India, dan 2 orang Indonesia.

Banyak hal baru yang didapat. Mereka saling berbagi cerita perjalanan, kekonyolan, dan pengalaman unik selama traveling. Tawa, dahi berkerut, dan senyuman menghiasi wajah mereka saat mendengarkan pengalaman masing-masing. Dua jam mereka mengobrol, kemudian memutuskan untuk pulang ke tempat masing-masing. Mereka saling bertukar nomor handphone, siapa tahu akan saling berkunjung atau traveling bersama.

Setelah pertemuan itu, Sabrina melanjutkan hidupnya. Kedatangannya ke meet up komunitas itu merupakan pengalaman yang cukup menarik. Beberapa hari setelahnya, seseorang menghubunginya.

Halo, Sabrina. What’s up? I’m Karan from the traveler community. Do you remember me?  

 

Oh, hi Karan. Ya…of course I remember. I’m fine, thanks. How about you?

Hari itu Karan menghubungi Sabrina, dan langsung mengajaknya bertemu. Ia masih di Indonesia untuk beberapa waktu, dan ingin tahu lebih banyak tentang Jakarta. Sabrina setuju untuk bertemu setelah pulang kantor.

Sabrina dan Karan bertemu di salah satu kedai kopi. Sabrina hanya memakai kaos oblong hitam longgar dan celana jins. Ia memakai flat shoes berbahan karet. Hari itu ia tidak memakai make up sama sekali.

Sabrina sudah makan beberapa potong roti di kantor, jadi ia hanya memesan teh tarik. Karan cukup lapar dan memesan nasi goreng serta sebotol soft drink. Karan ingin pesan bir, tetapi kedai kopi tidak menyediakan alkohol.

Sebenarnya Sabrina cukup kikuk saat bertemu lagi dengan Karan, karena mereka hanya berdua. Tapi makin lama ia bisa santai dan mengobrol tentang banyak hal. Merasa belum cukup banyak berbincang, Karan menawarkan untuk pindah tempat. Ia juga minta diperlihatkan ke kehidupan malam Jakarta. Sabrina membawanya ke salah satu bar di Jakarta Barat. Sedang ada live music di sana. Mereka menikmati live music ditemani sebotol bir dan orange juice. Karan teman mengobrol yang cukup asik. Mereka mengobrol hingga cukup larut.

Saat jam menunjukkan pukul setengah dua belas malam, Sabrina pamit pulang karena keesokan harinya ia harus kembali bekerja. Karan setuju. Mereka menaiki taksi yang sama. Taksi mengantar Sabrina terlebih dahulu, dilanjutkan ke tempat Karan.

Sabrina menganggap pertemuan itu biasa saja. Tetapi ia senang bisa bertemu Karan dan mengobrol tentang banyak hal. Setelah pertemuan itu, Karan intens menghubungi Sabrina.

Hari Sabtu, Sabrina sudah ada rencana dengan Intan dan kekasihnya yang baru. Mereka akan hangout di salah satu bar di SCBD. Sabrina juga bertanya pada Karan kalau-kalau ia mau bergabung. Sebenarnya Karan ingin datang ke meet up komunitas traveler lagi. Tapi saat Sabrina mengajaknya, ia bingung menentukan akan ke mana.

Malam itu Sabrina memakai dress pink dan high heels hitam. Ia memakai eyeliner, serta lipstik senada dengan dress nya. Intan dan kekasihnya sudah sampai duluan. Mereka menunggu Sabrina di mobil sambil meminum brain wash. Saat Sabrina sampai, ia bergabung dengan Intan dan kekasihnya. Sabrina juga meminum beberapa teguk. Kemudian mereka naik ke lantai 2 dan duduk di salah satu sisi yang berlatar kontainer hijau bertuliskan nama bar.

Karan juga akhirnya memutuskan bergabung bersama mereka. Karan sempat ragu untuk bergabung karena belum mengenal Intan dan kekasihnya. Tetapi Sabrina meyakinkan that everything’s gonna be okay. Lagipula itu kumpul-kumpul casual. Terbukti, tidak ada kecanggungan saat mereka berbincang-bincang. Malah Karan dan kekasih Intan cukup seru saat membicarakan rally karena memiliki pengalaman sama.

Intan sempat tersenyum dan memandang curiga ke arah Sabrina ketika Karan muncul. Sabrina membalasnya dengan gelengan dan kerutan dahi. Hanya mereka yang tahu apa maksudnya. Ketika kamu sangat dekat dengan seseorang, ada gesture-gesture khas, hanya kalian yang tahu apa artinya. Atau tanpa harus diucapkan pun, kalian sudah saling mengerti. Mungkin karena kedekatan yang sangat kental, kalian bisa membaca pikiran masing-masing, atau semacam telepati. Entahlah.

Makin malam, beat musik semakin naik. Setelah beberapa botol bir, mereka memesan flaming waterfall. Tapi hanya Intan dan Sabrina yang meminumnya. Sabrina dan Intan makin asik berdansa. Bergerak semangat mengikuti beat. Sudah hampir jam 1 lewat. Sabrina sepertinya sudah tidak sadar. Bahkan saat bill diterima, ia langsung mengeluarkan kartu ATM dan meracau. Sudah waktunya pulang.

Intan, kekasihnya, Karan, dan Sabrina masuk ke mobil kekasih Intan. Kekasih Intan yang menyetir. Karan dan Sabrina duduk di tengah. Sabrina sudah teler sampai gelendotan di badan Karan.

“Do you wanna go home with me, or with Intan?” Karan bertanya kepada Sabrina.

“Nginep di rumah aku aja ya.” Intan berkata agak keras sambil menghadap ke arah Sabrina.

“Uhm…” Tanpa disangka, Sabrina masih bisa diajak bicara.

“Ada kresek ga?” Sabrina meneruskan perkataannya dengan tempo yang sangat lambat sambil masih menyender ke Karan.

Intan merogoh belakang kursinya dan memberikan kresek hitam ke Sabrina. Dan voila, Sabrina jackpot.

“Aku nginep di tempat kamu ya.” Setelah mengeluarkan ‘unek-uneknya’, Sabrina menjawab Intan dengan tempo yang masih sangat lambat dan pandangan yang kabur. Karan yang duduk di sebelahnya hanya bisa bengong. Untung saja Sabrina masih behave dan tidak mengotori mobil kekasih Intan atau jackpot di pangkuan Karan. Bila itu terjadi, what a romantic Saturday night!

Karan pamit turun dari mobil. Ia masih lanjut ke club sekitar situ. Mobil melaju menuju rumah Intan. Sabrina sudah sangat nyaman tidur di jok tengah, menaikkan kakinya pula. Saat sampai, Intan membangunkan Sabrina untuk pindah tidur di kamar. Jalannya masih sempoyongan, tapi mereka berhasil sampai di kamar tanpa membangunkan siapapun.

Pagi sekali, Sabrina terbangun untuk ke kamar mandi. Ia sempat mengecek handphone nya dan membalas chatting. Setelah itu, ia tertidur pulas dan bangun lagi siang bolong. Saat Sabrina bangun, Intan sudah melakukan banyak hal.

Sabrina mandi. Selesai mandi, Intan sudah di kamar. Sabrina nyengir dan menanyakan kejadian tadi subuh.

“Parah banget deh kamu tadi subuh.” Intan mengambil remote TV dan menjawab Sabrina.

“Iya, maaf deh. Parah banget ya? Itu pertama kali aku jackpot tahu.”

“Haha…dasar. Ckckck…”

“Ini pasti gara-gara brain wash itu deh. Sebelum-sebelumnya, bir sama flaming nggak pernah bikin jackpot. Kemarin sebelum ke atas, kita minum itu dulu. Puyeng sih…”

“Iya…Rando emang sengaja bawa itu supaya nggak minum banyak pas di atas.” Intan menjelaskan tentang kekasihnya yang punya taktik sendiri untuk chill.

“Maaf yaaa…aku nggak jackpot sembarangan kan?” Sabrina cengar-cengir mengingat samar-samar kejadian tadi subuh.

“Iya. Untung aja kamu nggak jackpot di pangkuan Karan. Hahaha…”

“Hahaha…kalo iya, aku malu banget sih. Itu aja aku udah parah banget.”

Saat mengecek handphone nya lagi, Sabrina baru sadar kalau tadi sempat membalas pesan dari Karan. Bahkan ia juga tidak sadar telah mengetik balasan ke Karan. Ia senyum-senyum sendiri. Satu lagi pengalaman gila yang dialaminya seumur hidup.

Seminggu berlalu, Karan masih intens chatting dengan Sabrina. Tapi mereka belum sempat bertemu lagi. Sudah waktunya Karan kembali ke negaranya. Liburannya di Indonesia sudah berakhir. Ia harus kembali melanjutkan aktivitas di negara asalnya.

Hari minggu, jadwal keberangkatan Karan. Ia mengirimkan pesan ke Sabrina.

Hei, Sabrina. I gotta go today. Is it possible if we meet again? Grab some coffee or watching movie?

 

What time your flight?

 

At 3 PM.

Sabrina melihat jam. Ia baru saja bangun, jam 9 pagi.

You know, I’d love to. But I don’t feel like I can make it. Because I wanna lying on my bed all day.

 

 Yea, I know. But it’s my last day in Indonesia, and I wanna meet you before I go.

 

I’m sorry, Karan. I’m so lazy today. You have a safe flight. Hope we can meet again someday.

Entah jawaban Sabrina itu keterlaluan atau tidak, tapi Sabrina tidak ingin bertemu. Entah Sabrina memang benci perpisahan, atau memang semalas itu untuk bertemu Karan di hari terakhirnya di Indonesia. Hanya Sabrina yang tahu.

Karan kembali ke negaranya. Sabrina leyeh-leyeh seharian di kamarnya.

About Author

Mega

Mega

The dream to become a journalist started in junior high school. Graduating from college, she started a career in TV industry as a broadcaster, reporter, and script-writer. Now she is a part of our team. She also loves to sing in the shower, dancing with the rain, and let her imagination run wild while reading novel.

Comments

Most
Popular

(i1.wp.com)

5 Anime yang Digemari Perempuan 90-an

Perempuan yang lahir tahun 90-an, uda jelas donk gak asing sama film-film kartun yang menumbuhkan mimpi dan imajinasi ma.. more

(www.gameprime.asia)

Lima Game Keren dari Exhibitor-Exhibitor BEKRAF GAME PRIME 2017

Kamu udah tahu belum games karya developer-developer Indonesia yang akan jadi exhibitor di BEKRAF GAME PRIME 2017? Kalau.. more

(Sumber: Themarysue.com)

Spiderman Homecoming: Spiderman Millennial Ala Tom Holland (NO SPOILERS)

Terdapat sedikit keraguan saat pihak Marvel mengumumkan bahwa Tom Holland lah yang akan memerankan tokoh utama di film S.. more

Alti Firmansyah, Srikandi Indonesia yang Mendunia

Profesi komikus di luar negeri bisa dibilang cukup menjanjikan dan bisa dijadiin pijakan untuk hidup secara layak. Nah, .. more

Anna Wintour (Sumber: pursuitst.com)

Mengenal Sosok ‘The Devil Wears Prada’ di Kehidupan Nyata, Anna Wintour

Bagi pecinta fashion, sosok Anna Wintour pasti sudah tidak asing lagi. Wanita dibalik kesuksesan majalah Vogue ini terbi.. more