Sabrina – Chapter 5: Teriakan Memekakkan Telinga

9 months ago

Cerita ini hanya untuk 21 tahun ke atas, menimbang konten di dalamnya yang membutuhkan pikiran terbuka dan pemikiran yang matang.

Teriakan Memekakkan Telinga

Musik jazz mengalun dari radio tua berwarna perak. KLCBS sedang mengudara dan memperdengarkan lagu-lagu kesukaan ayah. Ayah tiduran dengan satu kaki ditopang kaki lainnya. Ia sedang sangat rileks di dalam kamar.

Sementara itu di luar kamar, dua anak perempuan sedang berkejaran memutari rumah. Sang adik mengejar kakaknya dengan raut wajah jengkel sambil terus berteriak. Hingga akhirnya sang adik berhasil menjangkau kakaknya dan memukul dengan sangat keras berkali-kali. Sang kakak hanya terdiam menerima hujanan pukulan itu. Sampai suara hantaman keras dan teriakan dari arah kamar, membuat sang adik berhenti memukuli kakaknya.

Seketika itu juga, dua anak perempuan itu lari ketakutan ke kamar mereka. Mereka seperti dikejar sesuatu yang sangat menakutkan, padahal tidak ada yang mengejar mereka. Kemudian sang mama yang sejak tadi sibuk di dapur, masuk ke dalam kamar. Terdengar lagi teriakan dari kamar ayah.

Dua anak perempuan yang sedang dalam posisi sembunyi, semakin ketakutan. Kemudian terdengar suara pintu kamar dibuka. Mama masuk dengan wajah ditekuk.

“Kenapa sih…?”

“Itu Mbak gangguin aku terus dari tadi.” Sang adik menjawab mama.

“Kenapa atuh Mbak, gangguin adek terus?” Mama masih jengkel, tapi nada bicaranya tetap halus.

“Lagian aku kan bercanda. Dia mah nggak bisa diajak bercanda.” Akhirnya si kakak angkat bicara.

“Tuh, ayah marah. Sana pada minta maaf dulu.” Mama duduk di kasur dan mendekati mereka.

“Takut, Ma.” Sang adik mulai menangis.

Nggak papa kok, yang penting kalian minta maaf.” Mama mendekati adik sambil mengusap-usap rambut adik.

“Mbak…minta maaf ya.” Kali ini mama menoleh ke arah si kakak.

Sang kakak seperti tidak terima dan masih menekuk mukanya. Tapi setelah sekali lagi berbicara, mereka berdua mau menuruti mamanya. Mereka berjalan menuju kamar ayah dengan langkah yang sangat lambat, dan masih dengan ketakutan.

Kakak beradik itu masuk ke kamar ayah. Jantung mereka berdegup cukup kencang. Ayah masih dengan posisi sama seperti sebelum kejadian itu terjadi. Saat mereka sudah sampai di depan tempat tidur, sang adik mendorong kakaknya seperti memohon supaya kakaknya membuka suara. Sang kakak mengernyitkan dahi dan menatap jengkel ke arah sang adik. Tetapi setelah itu, ia memberanikan diri untuk memecah keheningan.

“Yah, maaf ya…” Sang kakak berkata sambil menundukkan kepalanya.

“Kenapa sih…kalian berantem karena apa?” Ayah berkata dengan nada yang agak tinggi.

“Iya, maaf yah. Tadi aku ngegangguin Regina sampe nangis.” Sang kakak memberi penjelasan, sambil masih tidak terima dengan apa yang keluar dari mulutnya.

“Ayah kesel banget. Denger yang ngerengek-rengek.

Sang kakak juga menoel adiknya supaya mau bicara.

“Maaf ya yah…” Akhirnya sang adik bicara juga.

“Yaudah, sini…maafin ayah juga ya.” Ayah membuka lebar tangannya. Menunggu mereka mendekat ke pelukannya.

Kakak beradik itu mendekat ke pelukan ayahnya, dengan sedikit ketakutan yang tersisa di dada mereka.

*****

Hari itu Sabrina harus pindahan kosan. Ia akan pindah ke kosan yang lebih bagus. Kosan yang ditempatinya sejak awal mendapat kerja di Jakarta adalah kosan yang sangat sederhana. Ia hanya membayar Rp350.000,- per bulan. Ia menempati salah satu kamar kosong di salah satu rumah warga. Pemilik rumah itu sangat baik, dan memperlakukan Sabrina seperti keluarga sendiri. Tapi Sabrina ingin tempat yang lebih nyaman untuk ia tinggali.

Tadinya Sabrina akan pindahan menggunakan taksi. Tapi tanpa diminta, Ronald menawarkan diri untuk membantu Sabrina pindahan. Wah, dengan senang hati Sabrina menerima tawaran Ronald.

Mobil berwarna silver berhenti di depan sebuah gang. Sabrina sudah membawa barang terakhirnya, dibantu oleh pemilik kosan. Ibu pemilik kosan itu memeluk Sabrina.

“Sabrina, main-main ya ke rumah. Maapin Mpok ya…” Ibu itu menangis, seperti tidak terima berpisah dengan Sabrina.

“Iya, Mpok. Nanti aku main ya…Salam buat Ihsan sama Mirza.” Sabrina membalas pelukan sambil mengenang kedua anak Ibu kosannya.

Ronald membantu Sabrina mengangkat barang-barangnya ke mobil. Setelah semua barang sudah masuk, mobil silver itu melaju. Ronald menyetir menuju kosan baru Sabrina. Banyak juga barang Sabrina. Ronald membantu memindahkan barang-barang Sabrina ke kamar barunya di lantai 2.

Ronald dan Sabrina cukup kelelahan setelah bolak-balik mengangkat barang. Ronald sampai bercucuran keringat.

“Ronald, makasih banyak yah udah bantuin pindahan. Nih, minum dulu.” Sabrina menyodorkan minuman dingin yang ia beli di warung bawah.

“Iya…santai aja. Kayak ke siapa aja ah kamu.” Ronald menjawab Sabrina sambil meneguk minumannya.

“Aku harus pulang sekarang. Ada janji sama anak-anak.”

“Oh, oke. Maaf ya jadi ngerepotin.”

“No problem.” Ronald berdiri dan berjalan menuju pintu.

“Ronald! Makasih ya…” Sabrina mendekat dan mencium pipi Ronald.

Pindahan adalah hal yang menjemukan untuk Sabrina. Tapi bantuan Ronald sangat meringankan bebannya. Ronald sudah dekat dengan Sabrina selama sebulan. Mereka sudah kencan beberapa kali. Orang tua Sabrina juga memang sudah mengenal Ronald sejak lama.

Suatu kali, Ronald menghubungi Sabrina. Ia ingin mengajak Sabrina dinner. Sabrina setuju. Mobil silver itu masuk ke jalan kosan Sabrina. Ronald menelepon Sabrina untuk turun. Sabrina sudah siap dan turun menuju mobil Ronald. Kali ini Sabrina memakai dress broken white tanpa lengan, bermotif kulit tiger. Ia memakai flat shoes hitam kesayangannya. Untuk make up, Sabrina memakai eyeliner, dan memulaskan lipgloss untuk bibirnya.

“Hai. Udah siap?” Ronald sudah duduk di mobil dan tersenyum menyambut Sabrina.

“Udah. Yuk…” Sabrina duduk dan menjawab Ronald.

Mobil melaju keluar dari jalan yang cukup sempit. Ronald memencet-mencet tombol, mencari lagu yang enak. Terdengar lagu “Feel This Moment” yang dinyanyikan Pitbull featuring Christina Aguilera. Kemudian Ronald mulai ikut menyanyi. Saat reff, Sabrina juga ikut menyanyi.

“Aku mau ngajak kamu ke salah satu café yang aku suka.” Ronald menarik tangan kanan Sabrina dan menggenggamnya.

Sabrina mengangguk dan tersenyum. Mereka bergenggaman tangan sampai teriakan memekakkan telinga terdengar. Saat menyetir, Ronald mengambil jalan tengah. Kemudian menyalakan lampu sein kanan, jauh sebelum jalan di kanan terlihat. Mobil di belakang membunyikan klakson.

“Kenapa sih tu mobil, rese banget.” Ronald menggerutu.

Saat jalan yang akan mereka masuki sudah terlihat, Ronald memperlambat laju mobil. Mobil belakang mengklakson lagi. Kali ini membuat Ronald makin kesal. Saat mobil belakang menyalip mobil mereka dari kiri, Ronald membuka jendela di sisi Sabrina.

“Bangsat lo!” Ronald berteriak ke arah mobil yang sudah melaju kencang, dekat telinga Sabrina. Kemudian Ronald membelokkan mobil, masuk ke jalan yang dituju.

“Ronald, boleh berhenti di sini gak?” Sabrina berkata dengan suara yang agak bergetar.

“Loh, kenapa?”

“Berhenti aja.” Sabrina berkata lagi, sambil menunduk.

Mobil berhenti. Sabrina menarik kunci di sisi kirinya, kemudian membuka pintu mobil. Sabrina keluar dari mobil, menyebrang jalan, dan menyetop taksi. Taksi yang ditumpangi Sabrina melaju dengan cepat.

“Sabrina!” Ronald sangat kebingungan, dan hanya bisa memanggil Sabrina dari dalam mobil karena kejadian itu berlangsung sangat cepat.

About Author

Mega

Mega

The dream to become a journalist started in junior high school. Graduating from college, she started a career in TV industry as a broadcaster, reporter, and script-writer. Now she is a part of our team. She also loves to sing in the shower, dancing with the rain, and let her imagination run wild while reading novel.

Comments

Most
Popular

Consilium

Consilium, Komik Bergenre Action Sci-fi yang Penuh Drama

Bro sis waktu kecil pernah nonton film-film tentang agen rahasia? Kayak James Bond, Kingsman, Mission Impossible, dan la.. more

(Sumber: wildheartwithasoftspot)

Kepercayaan dan Mitos Kebudayaan Jepang yang Patut Kamu Ketahui

Pernah nonton film ‘Memoirs of Geisha’ ? Yap, film yang berkisah tentang Geisha ini memang sangat menyentuh dan mem.. more

Valve and Steam (Sumber: http://2.bp.blogspot.com/-NNLEB_aaNQY/VTQwGsKSSjI/AAAAAAAABeU/z-QCEDlLDEs/s1600/valve-steam.jpg)

Pro dan Kontra Kebijakan Baru Steam Direct, Yay or Nay?

Penggantian Steam Greenlight ke Steam Direct memang menimbulkan banyak pro dan kontra, ada yang setuju dan ada yang tida.. more

(Sumber: reddit)

Gawat, Mobile Legends Digugat oleh League of Legends!

Akhir-akhir ini beredar kabar bahwa Riot Games, perusahaan game indie asal AS mengugat Shanghai Moonton Technology, peru.. more

Si Nopal: Karakter Chubby yang Bikin Geli

Hari ini rubrik Chit Chat akan membahas salah satu komikus yang lagi ngetrend di Instagram nih yaitu Si Nopal!.. more