Sabrina – Chapter 7: Pulau Dewata

9 months ago

Cerita ini hanya untuk 21 tahun ke atas, menimbang konten di dalamnya yang membutuhkan pikiran terbuka dan pemikiran yang matang.

Pulau Dewata

Sabrina sampai di Pulau Dewata. Saat itu bulan Oktober. Panas menyeruak, 32 derajat celcius. Sabrina berjalan dari tempat pesawat mendarat, melewati pura kecil yang menjadi icon bandara I Gusti Ngurah Rai. Setelah beberapa tahun tidak ke Bali, banyak sekali perubahan positif di bandara. Interior bandara semakin nyaman dan rapi.

Setelah melewati pintu kedatangan, Sabrina melihat project manager nya dari kejauhan. Vincent dan istrinya, Tarita menjemputnya di bandara. Sabrina cipika-cipiki dengan Tarita, kemudian berpelukan dengan Vincent.

Vincent menyetir mobilnya, mereka menuju rumah Vincent di daerah Denpasar. Selama di Bali, Sabrina akan menginap di rumah Vincent. Tetapi bila Sabrina bosan atau butuh suasana baru, Vincent bersedia menanggung biaya hotel tempat Sabrina menginap. Malam ini waktunya Sabrina istirahat. Besok Vincent akan memperkenalkan Sabrina pada beberapa orang yang terlibat dalam project itu.

“How’s your flight?” Vincent bertanya kepada Sabrina sambil menyetir.

“It’s good. I slept anyway. Hihihi…” Sabrina nyengir.

“Oh, sleepy head.” Vincent mencibir dengan aksen British yang cukup kental.

“Emang enaknya tidur ya Mbak, selama perjalanan.” Tarita yang duduk di depan, menoleh ke Sabrina.

“Iya…” Sabrina masih nyengir.

Meski belum lama mengenal Vincent, Sabrina sudah percaya dan nyaman berbincang-bincang dengannya. Begitu pula dengan Tarita. Istri Vincent itu adalah dara Sunda. Tarita berasal dari Serang. Ketika ia bekerja dengan sepupunya, Tarita dipertemukan dengan Vincent. Mereka sudah dua tahun menikah. Setelah Vincent sudah tidak bekerja di Australia, mereka memilih tinggal di Bali. Makanya Vincent ingin serius dengan project ini.

“Nah, kita udah sampe. Mbak bisa tidur di kamar ini. Kalo butuh dicuciin atau butuh apa-apa, minta tolong aja sama Darmi.” Tarita menunjukkan kamar Sabrina yang sudah ia siapkan, dan memperkenalkan Sabrina pada asisten rumah tangganya.

“Wah, makasih ya Tarita.”

“Tomorrow the chef will come. Then, we will be having dinner at Jimbaran.” Vincent memberitahukan beberapa agenda pada Sabrina.

“Kalo mau cemilan, cari aja di kulkas. Ato kalo lapar, bilang aja ke Darmi. Silakan istirahat ya Sabrina.”

“Oke. Thanks Vincent. Makasih Tarita.”

Kamar Vincent dan Tarita di lantai dua. Sabrina diberikan ruang privasi di lantai satu, lengkap dengan ruang TV dan dapur.

Setelah mandi, Sabrina makan yoghurt serta hidangan yang disiapkan Darmi di meja makan. Kemudian masuk ke kamar dan tidur dengan nyenyak.

Keesokan harinya, seperti yang telah disampaikan Vincent, chef yang akan bergabung dengan project ini datang. Saat itu Sabrina sedang membuat scrambled eggs dan memanggang roti untuk sarapan. Darmi memanggil Vincent dan Tarita dari lantai dua setelah mempersilakan tamu duduk. Sabrina masih asik di dapur.

“Hey, Max. There you are.” Vincent turun dan menyapa tamunya.

“Sabrina, let me introduce you to Max. He’s the chef.” Vincent memanggil Sabrina untuk berkenalan dengan Max.

“Max.” Pria itu mengulurkan tangannya ke arah Sabrina.

“Sabrina.” Sabrina menyalami Max sambil tersenyum.

“Hey, I made scrambled eggs. Do you guys want to have breakfast too?” Sabrina bertanya sambil berjalan ke dapur.

“Saya sudah sarapan, terima kasih.” Max menjawab dengan bahasa Indonesia.

“Kamu bisa bahasa Indonesia, Max?” Sabrina bertanya sambil sedikit terkejut.

“Max is Italian. And he’s already stayed in Indonesia for 10 years.” Vincent memberitahu Sabrina sambil mengajak Max duduk di ruang TV.

“Eh, Max udah dateng.” Tarita turun dari lantai 2.

“Hai, Tarita. Apa kabar?” Max memeluk dan cipika-cipiki dengan Tarita.

“Tarita, aku lagi bikin sarapan. Kamu sama Vincent mau?” Sabrina bertanya dari dapur.

“Oh, makasih. Nanti kami ambil sendiri kalo mau sarapan.” Tarita menjawab sambil tersenyum.

Mereka berbincang-bincang. Max akan menjadi chef di restoran yang mereka rintis. Setelah cukup lama tinggal di Indonesia, ia sudah tahu produsen yang bisa memasok bahan-bahan makanan. Max sudah berpengalaman menjadi chef di hotel maupun restoran. Ia hanya butuh bantuan beberapa asisten chef di restoran nanti.

“You can talk with Max and discuss about the name and menu. Hopefully, you get some ideas. Tarita and I are going to buy groceries. Do you need something?” Vincent membuka jalan kepada Sabrina untuk memulai pekerjaannya dan pamit pergi ke luar.

“Oki doki, Vincent. No, thanks.” Sabrina sudah menyelesaikan sarapannya. Saatnya bekerja.

Sabrina dan Max berbincang cukup lama. Sabrina menggali informasi sebanyak-banyaknya tentang makanan Italia, beberapa nama khas, dan frase yang tidak asing didengar. Sabrina akan memilih nama restoran, brand guidelines, dan turunan desain di setiap sudut restoran. Mulai dari tisu, daftar menu, sampai plang nama restoran.

Bekerja di perusahaan besar sebagai graphic designer memang memberi Sabrina banyak pengalaman. Tetapi pekerjaannya ya itu-itu saja. Sabrina butuh hal lain yang bisa meningkatkan skill nya. Project ini menjadi pintu gerbang bagi Sabrina untuk project-project selanjutnya. Selain link yang makin luas, Sabrina bisa mengerjakan brand yang berbeda-beda. Ia juga bisa belajar banyak hal baru. Sungguh menyenangkan, bukan?

Sabrina dan Max baru selesai berdiskusi sore hari. Setelah Vincent dan Tarita kembali, Max pamit pulang. Diskusi panjang tadi cukup menyita stamina dan pikiran. Sabrina sudah dapat beberapa konsep desain. Ia harus membuat paper berisi detail dan penjelasan serta menyiapkan presentasi untuk semua opsi.

“How’s your day, Sabrina?” Vincent memastikan apakah Sabrina baik-baik saja.

“Thanks for inviting Max here and let him talk with me. I got some ideas. I will prepare it.” Sabrina cukup lelah hari ini.

“Hold on, you can prepare it tomorrow. Now you have to take a shower and dress up because we are going to have dinner.” Vincent tidak ingin Sabrina terburu-buru dengan pekerjaannya.

“Really? I’m here for working, Vincent.” Sabrina mengerutkan dahinya.

“Walaupun Mbak semangat sama project ini, tetep harus relax. Supaya hasilnya bener-bener bagus dan nggak terkesan terburu-buru.” Tarita meyakinkan Sabrina.

“Oke then, but from tomorrow on, I need some days to work in front of my laptop.” Sabrina berusaha profesional.

“You have three weeks in Bali. No need to rush.” Bos macam apa Vincent. Baik banget dia, ngijinin partnernya leyeh-leyeh. Betapa beruntungnya Sabrina.

“I trust you. I know you can do it. So I give you a time. Come on, prepare yourself for dinner.” Baru kali ini Sabrina dapet atasan macem gini.

“Kita bakal makan malem di pinggir pantai. Mbak bawa baju yang agak rapihan kan? Tapi pake senyaman Mbak aja.” Tarita menambahkan.

“Oke, Tarita. Iya, bawa kok.” Sabrina akhirnya menyerah dan mengikuti perkataan mereka.

 

About Author

Mega

Mega

The dream to become a journalist started in junior high school. Graduating from college, she started a career in TV industry as a broadcaster, reporter, and script-writer. Now she is a part of our team. She also loves to sing in the shower, dancing with the rain, and let her imagination run wild while reading novel.

Comments

Most
Popular

Sumber: Razer (https://www.razerzone.com)

Razer Akan Memproduksi Gaming Gear Overwatch Bertema D.Va

Baru-baru ini Razer mengumumkan produk baru mereka, yaitu set gaming gear bertema Overwatch. Set yang mereka keluarkan k.. more

Battlefield 1: In The Name Of Tsar (Sumber: IGN)

E3: Update Tiga Game EA di E3 2017

Hi bro sis, dateng lagi nih kabar terbaru dari E3 2017. Kali ini update-nya khusus dateng dari EA. Dalam konferensi pers.. more

(dw9to29mmj727.cloudfront.net)

Boruto: Pewaris Naruto Seorang Anak Pembangkang?

Siapa yang tak kenal Naruto, sosok ninja ceria yang populer dalam serial anime. Lalu, siapa Boruto? Artikel ini akan men.. more

Yuk, Dukung Game Asal Indonesia Memenangkan International Mobile Gaming Awards Southeast Asia 2017!

Ajang penghargaan mobile gaming terbaik kawasan Asia Tenggara ini sudah mengumumkan nama-nama nominasinya pada 5 Septemb.. more

Sabrina – Chapter 14: Sehangat Sentuhan Seorang Ibu

Gabrielle tidak habis pikir dengan jawaban Sabrina. Ia tahu, Sabrina memang lapar. Bukan keadaan perut yang Gabrielle in.. more