Sabrina – Chapter 8: Makan Malam di Jimbaran

8 months ago

Cerita ini hanya untuk 21 tahun ke atas, menimbang konten di dalamnya yang membutuhkan pikiran terbuka dan pemikiran yang matang.

Makan Malam di Jimbaran

Sabrina memakai blouse bermotif garis-garis cerah, dan bawahan rok hitam di atas lutut. Malam itu ia memakai flat shoes pink yang tahan air. Ia mengikat semua rambutnya menjadi kuncir kuda. Untuk riasan wajah, ia hanya memakai BB cream serta lipstick senada dengan warna sepatunya. Ia sudah siap untuk pergi makan malam.

Sabrina menunggu di ruang TV. Beberapa saat kemudian, Vincent dan Tarita turun.

“Are you ready, Sabrina?” Vincent bertanya dengan semangat. Sabrina tidak tahu, dari mana Vincent mendapatkan semangat yang stabil seperti itu. Walaupun sudah tidak muda lagi, ia selalu terlihat bersemangat.

“Yes. I’m ready. Ah, you look beautiful Tarita.” Setelah menjawab Vincent, Sabrina melihat penampilan Tarita dan terkagum-kagum.

“Thankyou. Kamu juga cantik, Sabrina.” Tarita orang yang sangat baik. Dia seperti malaikat.

“Oke, let’s go.” Vincent mengajak semuanya untuk pergi.

“Darmi, kami pergi dulu. Tolong kunci semua pintu ya.” Tarita berpesan pada asisten rumah tangganya.

“We are going to Gabrielle’s hotel.” Oh, ternyata tidak hanya kami bertiga yang akan makan malam di Jimbaran.

Dari Denpasar, mobil yang kami naiki melaju ke daerah Legian. Ada satu hotel yang penampakan luarnya tidak terlalu besar. Tapi desainnya sungguh cantik. Pintu gerbang hotel berupa dua pilar dihubungkan oleh lengkungan, dengan pintu kayu di tengahnya. Desain gerbang menyerupai gerbang-gerbang atau gapura bergaya Eropa, l’arco di constantino. Perpaduan ornamen khas Bali serta arsitektur Eropa ini terlihat pas.

Kami menunggu Gabrielle di depan hotel. Gabrielle muncul dari gerbang hotel, sesaat setelah Vincent meneleponnya. Gabrielle masuk ke mobil dari pintu di sebelah kanan.

“Hi, how are you Vincent, Tarita?” Gabrielle menepuk pundak Vincent, kemudian cipika-cipiki dengan Tarita.

“Oh ya, it’s Sabrina.” Vincent memperkenalkan Sabrina sebelum Gabrielle nyosor juga.

“Gabrielle.” Pria berambut coklat itu menyalami Sabrina dengan mantap.

“Sabrina.” Fokus Sabrina langsung ke mata Gabrielle. Kenapa? Karena warna matanya tosca. Bisa kamu bayangkan? Seperti warna danau, atau aurora. Indah bukan?

Sabrina terperangah sepersekian detik. Kemudian sadar dan melepas genggamannya dari tangan Gabrielle. Pria yang kini duduk di sebelahnya itu berkebangsaan Perancis. Gabrielle adalah salah satu ekspatriat yang juga menginvestasikan modalnya untuk project restoran ini. Jadi secara tidak langsung, Gabrielle juga bos dari Sabrina.

Mobil Vincent berhenti di sebuah restoran pinggir pantai Jimbaran. Mereka turun dari mobil, kemudian memilih hidangan laut yang akan mereka nikmati. Dua ekor ikan ukuran sedang, tiga kilogram udang, serta dua ekor kepiting untuk mereka berempat. Selama menunggu proses memasak, mereka duduk di pinggir pantai. Mereka berpijak di atas pasir. Meja mereka dihiasi dengan lilin-lilin kecil yang menimbulkan kesan romantis.

Makan malam macam apa ini, pikir Sabrina. Bagaimana bisa di saat bekerja, ia bisa punya waktu untuk makan malam seperti saat ini. Tapi akhirnya Sabrina bisa menikmati momen itu. Ia hanyut dalam setiap perbincangan dengan Vincent, Tarita, dan Gabrielle.

Di depan sisi restoran yang menghadap ke pantai, ada undakan panggung kecil. Saat itu sebuah band akustik sedang membawakan beberapa lagu. Lagu Volare terdengar di tengah obrolan renyah Vincent, Tarita, dan Gabrielle. Vincent ikut bernyanyi, dan bergaya bak pemain gitar yang sedang menggonjreng gitar khalayannya. Spontan, tawa dan cibiran meluncur di meja romantis itu.

Saat lagu usai, Sabrina pamit untuk berjalan ke arah pantai. Ia mengingat kapan terakhir kali ke pantai. Sudah cukup lama juga ia tidak ke pantai. Malam itu sungguh indah. Sabrina merasakan kehangatan di dadanya. Ia sangat menikmati saat-saat bersama Vincent, Tarita, dan Gabrielle. Tapi saat ia memandang ke kejauhan, ia melihat dunia tanpa batas. Sabrina seperti merasa kecil, dan tidak sanggup. Apakah ia bisa menghadapinya?

Gabrielle berjalan mendekati Sabrina. Ia melihat Sabrina yang sedang berdiri di pinggir pantai. Sabrina menenteng sepatunya, sambil sesekali bermain dengan buih-buih ombak yang tersisa saat bertemu dengan pasir-pasir di tepian.

“What are you doing here?” Gabrielle bertanya pada Sabrina.

“Hey…Uhm, nothing.” Sabrina sedikit kaget dengan kehadiran Gabrielle.

“What are you thinking about?”

“I feel so small. Look at the unlimited sky. So huge.”

“Why are you thinking like that? What are you exactly thinking?”

“So many things I think about. Haha…”

“Don’t think too much. You need to relax.”

“I also think about this project.”

“Hey, you can think about that tomorrow. Now enjoy the moment. Vincent told me, you did great with Max. You have enough time. No need to rush.”

“Ya, you’re right. I’m overthinking.”

“Hey, can I get your number?”

“Why do you ask for my number? If you want to know the progress of the project, you can contact Vincent.”

“Ya, I know. Of course I can ask Vincent about the progress. But I need your number to contact you personally.”

Sabrina seperti tidak siap mendengar apa yang telah Gabrielle katakan. Memang, Gabrielle hanya meminta nomornya. Bukan sesuatu hal yang luar biasa. Tapi Sabrina merasa awkward.

“Really? You’re asking for my number?” Sebenarnya Sabrina agak tersipu. Tapi yang terlontar adalah tawa imutnya.

“Ya…I’m asking for your number.”

“Look, I will give you my Facebook account. We can chat there.” Sabrina tahu, siapa yang meminta nomornya. Tapi ia tetap mempertahankan prinsipnya saat berhadapan dengan pria.

“Oke, I will add you. You’re unpredictable you know?” Gabrielle tidak menyangka bahwa Sabrina tidak langsung memberikan nomor padanya. Gabrielle merasa Sabrina adalah perempuan yang menarik.

“Let’s go back to our table.” Sabrina memakai kembali sepatunya.

Sabrina dan Gabrielle kembali ke meja mereka. Vincent dan Tarita masih duduk di sana.

“Where have you been?” Vincent bertanya saat melihat Sabrina dan Gabrielle sudah kembali.

“We had a date on the beach.” Gabrielle tersenyum ke arah Sabrina.

“Hahaha…Gabrielle was joking.” Sabrina merasa pipinya memanas. Tapi ia tidak mau terlihat seperti udang rebus.

“You’re dating your boss?” Vincent melanjutkan candaannya.

“Let them enjoy the time, Vincent. Don’t disturb them.” Tarita yang sedari tadi juga ikut tersenyum, membela Sabrina dan Gabrielle.

“Well, oke. I will give them some time. But I think we have to go home now.” Vincent berkata dengan senyuman jahilnya.

“Oh, ya…you’re right. Let’s go.” Sabrina merasa kikuk, tidak tahu harus berkata apa.

“Serius, mau pulang aja?” Tarita bertanya ke Sabrina.

“Iya, Mbak. Udah larut malem juga. I need some sleep, so tomorrow can work again.” Sabrina menjawab dengan semangat.

“Oke if you say so. We have sleepyhead here.” Vincent memunculkan kembali panggilan jahilnya pada Sabrina.

Setelah bayar, mereka kembali ke mobil. Vincent menyetir mobilnya menuju hotel Gabrielle.

“This is me.” Mobil Vincent berhenti di depan hotel Gabrielle.

“See you later, Sabrina.” Gabrielle pamitan pada Sabrina sambil cipika-cipiki.

“Ya. Nice to meet you, Gabrielle.” Sabrina menahan rona di pipinya, menutupi kikuknya, seolah-olah semua berjalan biasa saja.

“Thanks, Vincent. Bye Tarita.” Gabrielle menepuk pundak Vincent dan cipika-cipiki pada Tarita.

“See you again guys! Thanks for tonight.” Gabrielle turun dari mobil dan pamitan sekali lagi.

“Bye…” Vincent, Tarita, dan Sabrina membalas sambil melambaikan tangan ke arah Gabrielle.

Malam itu sungguh berkesan bagi Sabrina. Ada hal yang menggelitik di pikirannya. Ia ingat, banyak yang harus dilakukan esok harinya. Tapi ia bisa tidur nyenyak malam ini. Sabrina pamit ke kamarnya, bersih-bersih, dan ganti baju tidur. Ia rebahan di tempat tidur sambil tersenyum, mengingat apa yang telah dilaluinya hari itu.

About Author

Mega

Mega

The dream to become a journalist started in junior high school. Graduating from college, she started a career in TV industry as a broadcaster, reporter, and script-writer. Now she is a part of our team. She also loves to sing in the shower, dancing with the rain, and let her imagination run wild while reading novel.

Comments

Most
Popular

Ngobrol Bareng Komikus Cantik Bergenre Ganda

Yuk, ngobrol bareng komikus cantik yang multitalenta ini. Nan Nan selalu membuat ilustrasi dan komik lewat dua genre yan.. more

Is Yuniarto, Alti Firmansyah, Ario Anindito di Meet and Greet Anime Matsuri 2017 (CIAYO Pictures)

Komikus Marvel, DC Comics, dan Garudayana Hadir di Anime Matsuri 2017

Dari ketiga komikus ini, ada yang udah lama ngerjain project nya Marvel, DC Comics, dan bahkan menghadirkan kembali kisa.. more

Ryan Reynolds as Pikachu. Sumber: gizmodo

Ryan Reynolds Resmi Menjadi Pemeran Pikachu di Film Live Action Pokemon!

Terpilihnya Ryan Reynolds sebagai pengisi suara Pikachu tentu tidak sepenuhnya merupakan kabar positif bagi sebagian fan.. more

Steven dan Millie menjadi Captain America dan Agent Carter sumber: Facebook.com/cosplayparents

Manisnya, Apa yang Dilakukan Pasangan ini Setelah Pensiun Benar-Benar Tidak Wajar!

Kira-kira apa yang akan kamu lakukan ketika kamu pensiun nanti?.. more

(Youtube BEKRAF Game Prime 2017)

Hal yang Bisa Kamu Dapetin Kalau Datang ke Game Prime 2017

Setelah sukses menggelar Game Prime 2016, tahun ini Game Prime kembali hadir dengan tema “Moving Forward: Accelerate G.. more