Sabrina – Chapter 9: Kerja di Bali Hanya Mitos

7 months ago

Cerita ini hanya untuk 21 tahun ke atas, menimbang konten di dalamnya yang membutuhkan pikiran terbuka dan pemikiran yang matang.

Kerja di Bali Hanya Mitos

Kamu tahu apa yang paling aku suka dari Bali? Tentu saja pantainya. Aku belum banyak mengunjungi pantai-pantai di dunia. Tapi pantai di Bali membuatku terpana, seperti tersihir. Melihat matahari tenggelam, rasanya seperti sedang dipeluk orang yang kita cintai. Hangat…dan terasa seperti tanpa akhir. Inginnya sih begitu, momen itu bisa terus terjadi dan tak berakhir. Tapi senja memang tak selamanya ada. Malam datang dan membuat semuanya menjadi gelap.

Bali tidak hanya indah di waktu senja. Siang hari saat menikmati matahari, membuatmu merasakan sensasi panas di sekujur tubuh. Kulit terbakar dan berubah lebih gelap. Tapi aku tidak takut dengan perubahan warna kulit yang semakin gelap, asal sebelumnya kuolesi tabir surya supaya kulit terlindungi. Menjadi gosong tidak masalah bagiku.

Kamu tahu apalagi yang kusuka saat sedang berlibur di Bali? Memakai baju tipis dengan bahan nyaman dan adem. Tidak akan ada yang mengomentari cara berpakaianmu. Karena orang-orang yang ada di Bali tidak rese, tidak sibuk mengurusi urusan orang lain. Tidak memedulikan penampilan orang lain. Kamu tidak akan dicap vulgar bila memakai bikini atau pakaian terbuka, karena memang tujuanmu ingin berenang ke pantai.

Hanya duduk di pinggir pantai, di bawah sombrella, memakai kacamata hitam, ditemani orange juice, merupakan momen sempurna yang bisa dirasakan ketika berada di Bali. Suara ombak dan gemerisik pasir merupakan simfoni indah yang menjadi backsound bersantai. Pers*tan dengan semua kesibukan, enyah semua kebisingan, hilang semua kepenatan. Selesai ritual di Bali, pikiran kembali segar, ide cemerlang bermunculan, semangat terbaharui. Entah memang Bali memiliki sihirnya tersendiri, atau itu hanya aku saja yang tersugesti demikian. Yang pasti, setiap selesai berkunjung ke Bali, aku bahagia.

Kali ini pun demikian. Tujuan utamaku ke Bali adalah bekerja. Detail pekerjaan memang aku selesaikan. Tapi hawa laut dan angin pantai tak kuasa kutahan godaannya. Hari itu aku bekerja di depan laptop dari pagi. Mencari-cari nama dan filosofi, menentukan beberapa basic design, kemudian butuh udara segar dan sedikit inspirasi. Teronggoklah aku di pantai dari setengah tiga, tentunya setelah menyantap makan siang buatan Mbak Darmi.

Bukan ke pantai namanya bila aku tidak memakai asesoris atau pakaian berwarna terang. Tanpa disuruh atau diminta pun, aku akan dengan senang hati memakai pakaian yang membuatku nyaman untuk leyeh-leyeh di pasir pantai. Tak lupa, aku juga membawa topi pantai dengan pinggiran yang lebar.

Setelah cukup lama leyeh-leyeh, aku berjalan ke tengah. Ingin merasakan sensasi menggelitik ketika berjalan di pasir pantai tanpa alas kaki. Rindu dengan buih ombak yang berdesir ketika sampai di tepian. Aku berjalan tanpa memedulikan keadaan sekitar.

Aku tidak kepanasan karena terlindungi topi yang cukup besar. Mataku tidak silau karena terlindungi kacamata hitam. Hanya kulitku yang terpapar sinar matahari, dan itu tidak kuhitung. Menyapa matahari bukan hal yang menjengkelkan.

***

Cekrek…cekrek…

Dari sudut lain, lelaki berkulit sawo matang sedang membidik, serius dengan fokus kameranya, mengabadikan sebuah objek yang dianggapnya menarik.

Cekrek…

Sekali lagi ia menekan shutter kameranya.

Kemudian lelaki itu tersenyum saat melihat hasil jepretannya. Lelaki itu berjalan mendekat ke pantai. Bertaruh, apakah objek yang ia abadikan mau menerima atau malah tidak nyaman ia dekati.

Biasanya lelaki ini mengabadikan objek diam. Pemandangan. Keindahan alam. Entah mengapa objek kali ini membuatnya tertarik mengambil kamera dan membidik dari jauh. Padahal ia hanya melihat dari kejauhan, dan ia hanya melihat sisi belakang objeknya.

“Hai, selamat siang. Maaf mengganggu.” Lelaki itu memberanikan diri menyapa gadis di depannya.

“Hai. Siang, ada apa ya?” Gadis itu terlihat bingung, seperti tidak siap didekati seseorang saat ia sedang tidak peduli dengan keadaan sekitar.

“Maaf kalau saya lancang. Entah apa yang mendorong saya, tapi saat melihat kamu dari kejauhan, saya langsung membidikkan kamera dan mengambil foto kamu.” Lelaki itu memberitahu gadis itu seperti ragu-ragu, sambil memperlihatkan hasil jepretannya.

“Demi apa?” Gadis itu membuka kacamata hitamnya, melihat hasil jepretan lelaki itu, dan kaget sepersekian detik. Kemudian memundurkan badannya, tetapi tersenyum sumringah setelahnya.

“Kamu suka?” Lelaki itu masih tidak percaya diri dengan hasil foto yang ia tunjukkan.

Gadis itu tidak menjawab. Hanya mengangguk dan tersenyum.

“Gawi.” Lelaki itu mengulurkan tangannya dengan kikuk sambil menyebutkan namanya.

“Sabrina.” Gadis itu membalas uluran tangan Gawi.

“Kamu nggak marah kan, difoto tanpa ijin?” Gawi bertanya untuk meyakinkan.

“Enggak kok. Lagian kamu juga udah nunjukkin hasil fotonya. Dan aku suka.” Sabrina agak kikuk berbicara dengan orang asing. Tapi setelah melihat foto dirinya, ia merasa, Gawi telah mengenalnya lama. Dan tahu angle mana yang pas dan enak dipandang.

“Kamu fotografer?” Sabrina bertanya setelah ada jeda beberapa detik.

“Uhm…bisa dibilang gitu. Awalnya dari hobi, dan tadinya nggak maksud buat dijadiin profesi.” Gawi memandang ke laut luas sambil mengalungkan kamera digitalnya.

“Hasil foto kamu keren.” Sabrina berkata jujur.

Gawi menaikkan alisnya, kemudian tersenyum. Ekspresi yang menggambarkan pertanyaan ‘really?’ dan setengah tidak yakin.

“Bukan karena ada akunya terus dibilang bagus. Tapi kayak, kamu tahu dari mana harus ngambil foto dan angle mana yang pas.” Sabrina seperti meralat dan melengkapi pernyataan sebelumnya.

“Gue nggak pernah yakin seratus persen sama kemampuan fotografi gue. Karena gue selalu pake insting. Nggak pake ilmu ato teori fotografi. Baru-baru ini aja gue mulai mau belajar dan cari tahu lebih banyak tentang fotografi.” Gawi berkata seolah-olah dia makhluk terkecil yang ada di muka bumi. Tapi perbincangan makin cair, Gawi dengan terbuka membagikan ceritanya pada Sabrina.

“Hei, kamu nggak sadar bahwa kamu punya kemampuan besar. Kamu cuma kurang percaya diri.” Sabrina sedikit berapi-api. Matanya berbinar.

“Suatu saat, kamu jadi fotografer besar.” Sabrina melanjutkan perkataannya. Ia menyampaikan dengan tulus.

“Dan kamu akan jadi model besar.” Gawi nyengir dan membalas pujian Sabrina.

“Mana ada model gendut gini. Ngarang!” Entah kenapa, Sabrina bisa dengan nyaman menyampaikan apa yang ada di pikirannya.

“Kamu nggak gendut, lagi. Kamu tuh curvy.” Gawi berkata apa adanya.

“Pret…kamu nggak usah ngada-ada ya. Udah ah, aku mau berteduh lagi.” Sabrina merona, ia hampir terbang barusan.

“Hei, gue serius. Kamu tahu Beyonce? Anggun? Mereka nggak kurus. Tapi curvy. Dan nggak punya badan kurus bukan berarti nggak menarik. Tiap orang punya sisi menariknya masing-masing.” Gawi memperbesar volume suaranya saat Sabrina makin lama makin menjauh mendekat ke sombrella.

“Sssstt…berisik!” Sabrina sempat berbalik dan mendekatkan telunjuknya ke mulut, sambil terus berjalan mendekat ke sombrella.

Setelah Sabrina duduk lagi di bawah sombrella, Gawi masih berdiri dekat pantai. Sesekali ia melihat ke arah Sabrina. Ia ragu-ragu, tapi kemudian mendekati Sabrina.

“Oke, gue nggak akan muji lo lagi.” Gawi duduk di samping Sabrina.

“Gini, biar lo nggak ngerasa awkward, gue bakal pergi. Tapi gue pengen ngundang lo dateng ke pameran foto gue.” Gawi menyodorkan kartu namanya.

Sabrina menerima kartu nama itu, tapi masih bergeming.

“Pamerannya besok malem, di Bentara Budaya. Banyak karya yang bakal dipamerkan besok, dan nggak cuma hasil karya gue aja.” Gawi meyakinkan Sabrina, tapi ragu-ragu juga dengan apa yang dikatakannya.

“Kamu bisa hubungin gue kalo nggak tahu tempatnya, ato butuh nanya apa pun.” Kali ini Gawi berdiri, hendak pergi. Ia takut terlalu lancang dan membuat Sabrina tidak nyaman.

“Oke.” Sabrina melihat kartu nama yang disodorkan Gawi, dan menjawab singkat.

“Kabarin gue ya, lo bakal dateng ato enggak.” Gawi tersenyum lalu hendak berbalik pergi.

“Thanks ya.” Sabrina bingung harus menjawab apa.

Gawi mengangguk sambil tersenyum, kemudian pergi dari hadapan Sabrina.

Sabrina masih tidak percaya dengan apa yang terjadi. Hari ini ia ke pantai hanya berniat untuk menghirup udara segar, dan sedikit membuyarkan pembuluh darah yang mengumpul dan membuatnya puyeng sedikit. Bukan untuk berfoto-foto dan berkenalan dengan orang asing. Kadang Sabrina tidak sadar dengan apa yang telah terjadi. Kadang ia perlu merunut kejadian yang baru ia alami, kemudian sadar dan tahu apa yang harus ia lakukan. Tapi seringkali sesuatu terjadi begitu saja, tanpa ada persiapan, tanpa Sabrina tahu harus berbuat apa. Jadi kadang, ia kikuk, atau terkesan menghindar. Padahal sebenarnya ia sedang mencerna apa yang sedang terjadi, dan memikirkan betul apa yang harus ia lakukan atau katakan.

Sabrina melihat lagi kartu nama yang diberikan Gawi. Kemudian tersenyum geli, membayangkan kembali apa yang baru saja ia alami.

“Besok malam, Bentara Budaya…” Sabrina berkata dalam hati.

Tidak jarang Sabrina pikun. Bila ia membawa notes nya, pasti ia tuliskan waktu dan tempat yang disebutkan Gawi tadi. Sabrina menyeruput sisa orange juice nya, kemudian berjalan pulang.

About Author

Mega

Mega

The dream to become a journalist started in junior high school. Graduating from college, she started a career in TV industry as a broadcaster, reporter, and script-writer. Now she is a part of our team. She also loves to sing in the shower, dancing with the rain, and let her imagination run wild while reading novel.

Comments

Most
Popular

(from : flickeringmyth.com)

Banyak Adegan Penuh Aksi di Film Thor: Ragnarok

Guys, bersiaplah menyambut tayangan perdana film produksi Marvel Studios, Thor: Ragnarok di bioskop kesayanganmu pada ta.. more

Tips berburu apartemen di Jepang (Sumber: hokkudaiaccomodation)

Tips Berburu Apartemen di Jepang

Menyewa apartemen di Jepang memang gak mudah. Banyak hal yang harus dipikirkan dan disiapkan secara matang, terutama bag.. more

The Kasuaris – Episode 4: Cewe Ini Jatah Gw

Ya beginilah enaknya punya teman yang punya Lamborghini juga. Asoy geboy ngebut di jalanan ibukota... more

(Sumber: Themarysue.com)

Spiderman Homecoming: Spiderman Millennial Ala Tom Holland (NO SPOILERS)

Terdapat sedikit keraguan saat pihak Marvel mengumumkan bahwa Tom Holland lah yang akan memerankan tokoh utama di film S.. more

Sumber: POPCON Asia

Yuk Kenalan Sama 4 Nominasi Upcoming Game Terbaik Versi Archipelageek 2017

Namun tahukah kamu, kalau ternyata game-game yang lolos di kategori upcoming ini bukan game sembarangan. Dijamin, pastin.. more